AtjehUpdate.com, Banda Aceh – Untuk kesekian
kalinya konsorsium Peusaba menggelar acara bertema sejarah, momen kali ini
tentang Aceh-Turkistan. Ketua panitia, Mawardi Usman mengatakan, acara ini
digelar sebagai pembelajaran bagi generasi muda Aceh. Rabu (26/07).
Ketua Peusaba Aceh, Mawardi
Usman mengatakan, pihaknya sangat menyayangkan sikap pemerintah yang telah menjadikan
titik nol Banda Aceh yang dulu bekas istana Darul Makmur dan bekas balai
pelatihan haji menjadi tempat pembuangan sampah dan tinja.
Dirinya mengharapkan agar proyek
itu dihentikan, apalagi masih banyak ulama yang makamnya masih ada di dalam
kompleks itu.
Dalam hikayat yang dibawa
oleh Muammar Al Farisi dikatakan, bahwa kelakuan orang yang  menjadikan makam ulama sebagai tempat buang
tinja hanya dilakukan oleh para pasukan salib yang menguasai Palestina sebelum
dibebaskan Sultan Salahuddin Al Ayyubi. Ujarnya.
Dia juga menceritakan
silsilah sultan Ilako Khan hingga anak cucunya Abdurrauf As Saljuki datang ke
Aceh. Kemudian anaknya Sultan Johan Syah jadi Sultan di Banda Aceh pada tahun
601 H atau 1205 M.
Sementara itu, Dr.Kamal
Arif selaku pemateri pada kegiatan tersebut mengatakan tentang sejarah
dibangunnya plakat titik nol dan juga sejarah singkat Sultan Johan Syah, beliau
mengatakan, situs harus dilindungi dan mungkin di Aceh dapat dikembangkan
sistem GEO Radar yang dapat melihat isi dalam tanah, jadi hamper tiap tempat diyakini
ada makam lama, maka jangan didirikan bangunan disana.
Penjelasan beliau amat
mengagumkan para tamu, terutama anak-anak SMA yang hadir dalam acara itu. Hal
tersebut diperkuat dengan pernyataan Abu Raman Kaoy yang mengatakan, bahwa dosa
besar menjadikan makam Sultan dan ulama Islam menjadi tempat sampah dan tempat
pembuangan tinja. Jika tidak tahu masih diterima taubatnya oleh Allah, namun
jika tahu tapi sengaja maka dia akan dikutuk Allah.
“Kewajiban saya
menyampaikan jika sudah tahu namun masih saja membuang sampah dan tinja di kompleks
makam ulama maka Allah yang maha perkasa yang akan menghukumnya”, ucapnya penuh
amarah.
Acara juga diisi dengan
diskusi dan foto bersama, acara ini dihadiri oleh guru dan siswa siswi SMA 1
Banda Aceh, Kapolsek, koramil, dosen, ahli sejarah, BPCB, insan pers dan
masyarakat umum.[Red]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here