AtjehUpdate.com, Banda
Aceh

– Memperkenalkan konsep penerapan rekonsiliasi dan keadilan paska konflik,
lembaga riset Aceh Institute mengadakan Sekolah Keadilan Transisi (Transitional
Justice School). Kegiatan yang bakal berlangsung selama tiga hari (9 – 11 Juni
2017) ini mengulas beragam materi, meliputi pengantar Kajian Konflik dan
Perdamaian, Hak Asasi Manusia, dan Wacana Rekonsiliasi Aceh.
Bertajuk ‘TJ School, For a
Lasting People’, kegiatan Sekolah Keadilan Transisi ini merupakan tahap dasar
dengan keterlibatan peserta sebanyak 38 orang. Mereka berasal dari berbagai
latar belakang, seperti mahasiswa, pengajar, jurnalis, dan lainnya.
“Hanya saja pada Basic
Course pertama hanya 25 peserta yang dapat terlibat, sementara yang lain akan
mengikuti Basic Course gelombang kedua yang akan dilakanakan pertengahan Juli
2017” ujar Peneliti Aceh Institute, Ismar Ramadhani.
Untuk hari pertama, Jumat
(9/6) TJ School mengulas beberapa Mata Kuliah Dasar yang diuraikan dalam tiga
materi. Kelas pertama mengangkat tema Pengantar Kajian Konflik dan Perdamaian,
dengan pemateri pakar hukum Unsyiah, Saifuddin Bantasyam. Selanjutnya, materi
Sejarah Konflik Aceh yang dimulai dari Prang Cumbok (1945-1946), Pemberontakan
Darul Islam –atau yang dikenal dengan DI/TII (1953-1962), dan Pembersihan
Komunisme (1965) yang disampaikan Pengajar UIN Ar-Raniry, Hasanuddin Yusuf
Adan. Kelas terakhir di hari tersebut, M Nur Djuli hadir mengulas sejarah
Konflik Kontemporer di Aceh yang terjadi dalam kurun waktu 1976-2005.
Sementara itu, di hari
kedua TJ School akan membahas Pengantar HAM dan Pelanggaran-pelanggaran HAM
oleh  Manager Program KontraS Aceh,
Faisal Hadi. Kemudian ada juga Gender dalam Perspektif Keadilan Transisi oleh
Samsidar. Di hari ketiga, akan ada ulasan tentang Mekanisme Keadilan Transisi
yang materinya akan dipaparkan oleh Yarmen Dinamika. Selanjutnya Ketua KKRA
Afridal Darmi berkesempatan memaparkan materi Pengenalan KKRA. Dan terakhir,
ulasan tentang mekanisme TJ dan mekanisme alternatif disampaikan Komisioner
KKRA, Fajran Zain.
Tahap dasar dari TJ School
ini bertujuan untuk memfasilitasi siapapun yang ingin belajar tentang konflik
dan perdamaian di Aceh serta keadilan transisi dan dimensi sosial dan politik
yang ada didalamnya. Kegiatan ini merupakan bagian dari Short Course yang masuk
ke dalam serangkaian program TJ School. Selain itu juga ada seminar,
penerbitan, penelitian dan suvei, serta praktik media. Short course ini sendiri
akan dilakukan dalam beberapa jenjang, mulai dari basic course dan kelas
lanjutan.
“Kami sudah menyiapkan
kurikulum yang ditawarkan pada peserta kelas. Semua kegiatan ini bertujuan
untuk mendukung kerja KKRA dalam pengungkapan kebenaran usai konflik di Aceh,”
pungkas Ramadhani.
Pentingnya Memahami
Perjalanan Konflik Menuju Damai
Dalam menyampaikan materinya,
M Nur Djuli berharap generasi muda yang mewarisi Aceh di masa depan, dapat
memahami bagaimana proses pergolakan dan perdamaian di Aceh yang telah
berlangsung selama lebih dari satu dekade terakhir.
“Kami mewarisi Aceh yang
pernah bobrok karena konflik, dan anda lah generasi muda yang memegang tanggung
jawab untuk menjalankan Aceh di masa mendatang. Maka penting sekali belajar
keadilan transisi,” ujarnya.
Ia juga merasa khawatir,
masih banyak sekali hal yang tidak tuntas mengenai implementasi perjanjian
perdamaian MoU Helsinki yang ditandatangani pada 15 Agustus 2005 silam.
Menurutnya, pemahaman kaum muda terhadap proses konflik Aceh juga masih sangat
rendah.
Ditambah lagi sejumlah
kekeliruan terjadi dalam menafsirkan butir-butir perjanjian damai tersebut oleh
pemerintah Aceh selama ini. Sehingga saat diturunkan dalam Undang-Undang
Pemerintah Aceh, sebut dia, banyak sekali poin-poin perjanjian yang belum
terakomodir.
“Saya yakin masih ada yang
belum membaca naskah MoU Helsinki, padahal ini adalah pegangan penting kenapa
kita berdamai,” imbuhnya.[Red]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here