Akademisi : Tidak Menggunakan Metode CAT, Rekrutmen KIP Langsa Subjektif

0
102

AtjehUpdate.com,- LANGSA, Rekrutmen menggunakan tahapan tes tertulis secara manual yang dilaksanakan oleh Pansel KIP Kota Langsa dianggap tidak objektif karena lemah dari sisi penilaian.

Harusnya pansel menggunakan metode Computer Assisted Test (CAT). Sehingga tidak ada penilaian subjektif, tetapi lebih objektif.

Hal itu dijelaskan oleh Danil Putra Arisandy, S.Sos.I, M. Kom. I, seorang akademisi yang saat ini sedang menyelesaikan program Doktoral di UIN Sumatera Utara melalui rilisnya pada AtjehUpdate.com, Kamis (7/6/2018).

Menurutnya, itu dapat dilakukan dengan menggunakan sarana dan prasarana pemerintah Aceh dan pemerintah kota langsa untuk menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi negeri yang memiliki laboratorium komputer seperti dengan IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa dan UNSAM Langsa.

Mengenai seleksi dan tata Kerja rekrutmen anggota KIP menggunakan sistem CAT pemerintah Aceh dan Kota Langsa dapat merujuk kepada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017, terkait kewenangan mengenai perekrutan anggota KIP Aceh pada Pasal 57 dan 60 UUPA yang berkaitan dengan KIP dan Panwaslih di Aceh.

“Jika DPR Kota Langsa memaksakan tes rekrutmen anggota KIP Langsa menggunakan metode manual, sama saja DPRK Langsa tidak mampu untuk menjalankan aspirasi masyarakat dengan jujur dan adil” tegasnya.

“Ujian penerimaan mahasiswa baru saja sudah menggunakan sistem CAT, apalagi KIP merupakan rekrutmen team independen, sangat disayangkan jika DPRK Langsa mengenyampingkan perkembangan Iptek yang canggih dan lebih Independen,” tandas Danil.

Mahasiswa program S3 ini juga menyayangkan jika rekrutmen masih menggunakan metode manual, karena bisa saja peserta yang tidak lulus menggugat ke PTUN terhadap metode rekrutmen anggota KIP yang dianggap cacat hukum.

Dalam hal ini DPRK Langsa bisa disalahkan terhadap keputusan-keputusan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan dari perspektif metode. Maka wajar saja jika banyak masyarakat mampu memprediksi siapa saja yang akan lulus seleksi anggota KIP Langsa, dikarenakan mereka menduga adanya intervensi ‘Oknum’ Partai Politik atau anggota DPRK kepada Pansel KIP.

Seperti nama yang banyak beredar selama ini di sosmed sebut saja R dan S (partai Aceh), T. F (Partai Golkar), KF (Partai Demokrat), dan M (Partai Hanura). Karena adanya ‘Margin Error’ yang sangat besar terhadap metode rekrutmen yg digunakan hingga dinilai sangat Lemah, tutup Danil Putra Arisandy, S.Sos.I, M. Kom.I.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here