Oleh : Nuriza Auliatami

AtjehUpdate.com,- Handai dan taulan, menjadi melayu tak harus selalu mendayu. Tidak semua nada dalam dentuman pakpung adalah mayor, terkadang kita perlu meminorkannya, begitu pula sebaliknya. Kita tak boleh lupa, tak selamanya pantun menjadi pencitra falsafah hidup, apalagi jika sedang dalam situasi yang sangat terdesak. Mari mengenang kembali, bagaimana jurus Harimau pada silat Pelintau tercipta oleh para leluhur kita, orang Tamiang. Sang sepuh, pada mulanya memproses dirinya dengan pengalaman belajar yang sangat panjang, berguru dari hulu ke hilir, mengabdikan diri demi menjaga harga diri masyarakat Tamiang di hadapan penjajah Belanda.

Bagi leluhur kita, lebih baik menjadi pejuang yang kalah di medan perang, daripada harus menundukkan pandangan di hadapan serdadu Kohler saat itu.
Dalam upaya menaklukkan wilayah Tamiang, bukan sedikit yang menjadi korban dari kekejaman politik adu domba Belanda, mulai dari kalangan elit kerajaan karang dan benua, hingga pemisahan masyarakat adat terhadap budaya lokal secara paksa. Kita dimanjakan dengan gedung, sementara kayu birah dan bakau lebih kuat menghadapi gejala alam seperti banjir dan gempa, hingga kita lupa dengan hikayat perjuangan Raja Muda Sedia dalam menghadapi Patih Gajah Mada.

Jika kita membaca buku Tamiang Dalam Lintas Sejarah karya Muntasir WD, kita akan menemukan kisah-kisah heroik para leluhur dalam membangun dan menjaga keberlangsungan peradaban Tamiang, dan ya! hal ini tentu tidak bertolak hadap dengan apa yang diceritakan oleh kakek dan nenek saat meninabobokan kita. Tentu saja, daripada tradisi tulis, tradisi lisan lebih merajai kebudayaan kita. Akibatnya ketika penuturan hikayat itu dihentikan, maka tersamarlah pula kisah-kisah tersebut.

Dalam dasar itu, penulis kemudian membuka laptop dan mulai mengetik kisah-kisah heroik itu kembali. Tak terlalu jauh ke belakang, kisah heroik tersebut adalah kisah masa milenials tentang “pembatalan diri sebagai narasumber” dalam acara “Rentak Melayu Raya” oleh Tengku Haris, salah satu pemangku adat dari kerajaan Karang, Aceh Tamiang, dengan alasan mempertahankan marwah masyarakat adat.

Begitu pula pada kisah selanjutnya. Kisah heroik ini lahir dari Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tamiang yang menurut sumber informasi terpercaya, seluruhnya tidak hadir pada pagelaran budaya melayu di lapangan merdeka kota Langsa, Sabtu (29/9/2018).

Kita perlu mengetahui, bahwa kehadiran Ayah Cang dan pak Mun (Muntasir WD) dalam Seminar Internasional Kebudayaan Melayu di acara Rentak Melayu Raya tersebut, bertujuan untuk mempertegas dan meluruskan pemahaman audiens soal bagaimana tradisi melayu sebenarnya. Apalagi ketika pak Mun memberi klarifikasi bahwa dalam tradisi adat melayu tak dikenal bahasa Peusijuk, tetapi Tepung Tawar ataupun Tawar Sedingin. Hal ini semakin menunjukkan ketidakmampuan panitia dan pemateri yang disiapkan dalam acara tersebut, sebab terkesan menafikan keragaman berbahasa dalam kehidupan berbudaya.

Ya, jelas saja bahasa Aceh dan Melayu itu berbeda. Lalu kita mulai bertanya, bagaimana kompetensi pemateri sebenarnya jika perihal bahasa saja masih menjadi kendala? Bagaimana pula jika ada peserta yang bertanya perihal praktik-praktik di dalam kebudayaan melayu? Aduhai!!! Kita menjadi semakin bertanya saja soal profesionalisme Pemerintah Provinsi dalam penyelenggaraan kegiatan berbasis kebudayaan.

Maka dalam kesempatan ini, penulis merasa bersyukur yang teramat tinggi atas rahmat kebersamaan dan kekompakan antar Pemerintah Daerah, Tokoh, dan Masyarakat Adat Aceh Tamiang yang Allah berikan.
Ya! inilah Tamiang! Seperti Bambu; akarnya kuat, tumbuh merapat.
Tulisan ini menjadi semakin terdengar politis memang. Akan tetapi, apa yang lebih pantas kita apresiasi selain keberpihakan seorang petinggi terhadap masyarakatnya? Kisah ini sepatutnya dipertontonkan menjadi sebuah naskah drama, film pendek, ataupun menjadi Dendang yang terus dipaparkan ke hadapan anak cucu kita nantinya. Kemudian, mari! Tabuh kembali pakpung kita!

(Mahasiswa Magister Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan USU Program Beasiswa Kemenpora RI Pengkaji Perencanaan Sektor Kebudayaan dan Kepemudaan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here