EUFORIA “Corat Coret” Seragam Usai Ujian, Akankah Tradisi Ini Berhenti?

0
49

AtjehUpdate.com,- LANGSA, Euforia tak terbendung sebagai style remaja masa kini dalam meluapkan kegembiraan usai Ujian Nasional, yaitu mencorat coret seragam sekolah sulit terelak.

Tak terkecuali di Kota Langsa, ratusan pelajar setingkat Sekolah Menengah Atas telah memenuhi beberapa titik sudut jalan dengan asyik mengecat baju mereka dengan cat semprot (pilox-red), menandatangani seragam temannya dengan pena maupun spidol, serta sebagian pelajar putra juga nekad mengecat rambut mereka, Kamis (12/04/2018).

Tak hanya mengecat saja, para remaja ini juga tak ketinggalan melakukan konvoi di jalan dengan mengelilingi Kota Langsa. Ada yang singgah di beberapa café sekaligus mentraktir teman juga ada yang janjian berkumpul di lokasi wisata seperti Kuala Langsa.

Luapan kegembiraan, tawa yang merebak seakan berkata bahwa mereka telah melewati Ujian yang sangat melelahkan, sehingga kini saatnya melepas beban tersebut dan lagi-lagi tentu karena ikut-ikutan sebagaimana senior terdahulu serta yang terlihat di media televisi dan dunia maya.

“Kita ikut-ikutan kawan saja, sekaligus biar ada kenang-kenangan setamat sekolah” ucap Mutiara salah satu siswi SMA Negeri 5 Langsa yang telah penuh coretan di seragamnya, ketika ditanya soal tujuannya melakukan hal tersebut.
Padahal para pelajar ini paham bahwa mereka belum bisa dikatakan lulus dan hanya telah melewati Ujian akhir saja namun itu semua tak membuat mereka resah dan mengurungkan niat bereuforia.

“Kalau nanti kami nggak lulus maka bisa ikut ujian paket C“ terang Mutiara yang mengaku bercita-cita menjadi Polisi Wanita.

Tak hanya Mutiara, hal senada juga dilontarkan Aris pelajar SMA Muhammadiyah Kota Langsa yang tak ingin melewatkan tradisi corat coret sebagai kenangan indah semasa SMA serta tak terlalu khawatir tentang hasil kelulusan.

“Kalau ternyata nanti tidak lulus dan harus sekolah lagi ya beli baju baru lagi lah” ucap Aris enteng sambil tertawa dibarengi teman-temannya.

Sulitnya menghindari budaya corat coret ini juga dirasakan Siti Radiah (40). Ibu rumah tangga yang memiliki anak remaja yang baru selesai mengikuti Ujian Nasional ini mengaku telah sangat tegas menekankan ke putranya untuk tidak mencoret seragam Sekolah, namun sang putra tidak menuruti karena merasa hal tersebut adalah momen penting baginya.

“Sebelum berangkat sekolah udah saya peringatkan untuk jangan ikut mencoret seragam, namun anak saya bilang itu udah tradisi dan merupakan momen penting baginya dan teman-temannya, jadi ya akhirnya pulang dengan baju yang penuh coretan padahal semua itu mubazir” kesal Radiah.

Padahal bagi Radiah yang sewaktu muda memilih tidak ikutan mencoret seragam SMA nya ini ingin budaya tersebut hilang mengingat baju seragam sekolah tersebut lebih baik dan mulia jika bisa disumbangkan ke orang lain.
“Kan sayang bajunya jadi ngak bisa dipakai lagi, padahal lebih bagus dikasi ke orang yang lebih membutuhkan” tutup Radiah.

Tak hanya Radiah yang berhasil menamatkan SMA tanpa tradisi mencoret baju Seragam, Oktarina juga mengaku tak pernah mau ikutan mencoret seragamnya ketika tamat sekolah SMA N 1 langsa sekitar tahun 1994. Baginya Euforia tersebut tidak bermanfaat.

“Gaul bukan harus Euforia. Saya dan sebagian kawan kawan saya dulu menolak corat coret karena kami bergembira dengan makan minum bersama lalu pulang ke rumah, apalagi bajunya kan masih bisa disumbangkan ke adik letting” pungkasnya.

Bagi radiah dan Oktarina tentu mencoret seragam bukanlah tradisi yang menarik melainkan tradisi yang harus dihentikan. Namun sebaliknya, pendapat berbeda diutarakan Muhammad, pengajar di salah satu SMA Kota Langsa. Dikatakannya bahwa tak ada yang salah dan bukahlah kejahatan budaya mencoret seragam sekolah tersebut.

“Mencoret baju bukanlah kejahatan, ketika itu hanya sebagai ekspresi kebahagiaan karena merasa telah melalui semua proses tahapan belajar yang panjang jadi itu adalah bentuk pelepasan lelah belajar sesuai program” pungkasnya.

Ditambahkannya, selama pelajar masih bisa membatasi perbuatannya seperti mencoret dengan cara dan ditempat yang wajar, berkonvoi dengan tidak melanggar lalu lintas saya kira tidak masalah budaya selebrasi tersebut dilakoni. “Selama masih dalam minimum standar selebrasi maka ngak ada masalah, karena ada nuansa nostalgia bagi mereka suatu saat nanti disaat melihat baju tersebut, kecuali jika menjurus ke bahaya seperti sex party, terlibat minuman keras, mengecat bagian yang berbahaya maka itu tidak boleh” terang Muhammad yang menyimpulkan bahwa jikapun pelajar memilih tidak mengecat maka tentu  lebih bagus.

Hal yang sama ditambahkan Budi, salah satu guru di Kota Langsa ini yang tak menampik kenyataan bahwa masa SMA merupakan masa indah yang sangat berkesan sehingga tak ada salahnya jika pelajar ingin mengabadikan momen tersebut dengan cara unik selama masih sebatas wajar dan tidak berbuat amoral.

“Ada perbedaan antara nostalgia dan sumbangan, ya meski baju itu bisa disumbangkan namun bagi yang memilih untuk menjadikannya sebagai sebuah kenangan maka tak salah bukan”, timpal Budi.

Memang, pro dan kontra tentang tradisi tahunan cara merayakan kelulusan dengan mencoret baju ini sulit terhindarkan, nasehat orang tua dirumah juga tak cukup ampuh untuk didengarkan ketika anak muda sudah membuat pilihan untuk ikut-ikutan teman.

Di Kota Langsa sendiri, tahun ini konvoi para remaja dalam merayakan kelulusan memang belum masuk kategori membahayakan. Sesekali ruas jalan sempat macet dengan kehadiran mereka serta mata para pengendara yang mengeluh melihat rambut-rambut para pelajar ini yang juga ikutan dicat sehingga semakin memperburuk penampilan.

Beberapa sudut utama kota juga disuguhi pemandangan luapan kebahagiaan para pelajar se SMA Kota Langsa, bunyi semprotan cat pilox, warna warni pakaian yang tadinya putih bersih kini terlihat urakan, tapi itulah pilihan mereka untuk berbahagia. Euforia yang terus terjadi tanpa tahu pasti manfaatnya. Akankah tradisi ini berhenti ?![Sherly/Mudin]

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here