AtjehUpdate.com,- Langsa, Permainan game online sejenis PUBG dan lainnya telah difatwa haram oleh Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh. Tidak tanggung-tanggung, rumusan itu dihasilkan melalui kajian selama 2 (dua) hari dengan menghadirkan para ahli di bidangnya. Walhasil game itupun divonis haram dan dilarang untuk dimainkan oleh anak-anak dan masyarakat.

Tentu saja fatwa ini dengan mudah dapat diterima oleh masyarakat tanpa kontra atau menolak, terutama para orang tua yang selama ini relatif resah dengan prilaku anak – anak mereka karena kerap menghabiskan waktu sia-sia di tempat umum dan cafee dengan fasilitas internet yang mendukung game tersebut.

Pun demikian reaksi-reaksi kecil dari penikmat game tersebut (red- gamer PUBG dan sejenisnya) tentu saja ada. Semisal beberapa penikmat yang ditemui media. Sebut saja Andi, ia dan beberapa temannya yang sedang asyik bermain di salah satu warkop itu pun menanggapi fatwa ulama tersebut, menurutnya sejauh ini game itu tidak berdampak terhadap psikologis mereka secara pribadi, ia dan rekan lainnya yang berprofesi di dunia kampus itu mengaku hanya menikamati permainan PUBG kala waktu luangnya saja, Kamis (20/6/19).

“Terlebih saat panggilan azan tiba, kami selalu bergegas menunaikan shalat tanpa peduli dengan game ini lagi, juga bila pekerjaan menanti”, ujarnya.

Artinya, bagi Andi dan teman – temannya game itu hanyalah pengisi waktu dan sekedar aktifitas iseng saja.

Ditempat terpisah, Fajar, gamer lainnya juga mengatakan hal yang sama, karena baginya kegiatan utama adalah menjalankan aktifitas dan rutinitas yang ada, bermain game adalah hal iseng tanpa boleh mengganggu aktifitas positif lainnya, terlebih dia mengaku telah berkeluarga.

Namun secara umum mereka pun sangat mendukung langkah – langkah yang diambil oleh para ulama di Aceh itu. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa rata – rata banyak pelajar dan anak usia sekolah sudah menjadi korban dan bakal bertambah para penikmat game itu yang punya dampak mudharat yang sangat besar daripada manfaatnya.

“Apa yang disampaikan para ulama kita itu sangat tepat, anak – anak pada malas dan buang waktu sia – sia di cafee atau warkop, bahkan bahaya dari kajian ulama itu jika mereka akan brutal dan bermental keras,” dukung Fajar.

Sebelumnya, MPU Aceh melaksanakan sidang paripurna ulama III tahun 2019 bertema “Hukum & Dampak Game PUBG dan sejenisnya Menurut Fiqh Islam, Informasi Teknologi dan Psikologi.” Sidang ini digelar di Aula Tgk H Abdullah Ujong Rimba, Sekretariat MPU Aceh sejak 17 hingga 19 Juni.

Menurut Faisal, ulama Aceh memutuskan mengharamkan bermain game survival (PUBG) karena sejumlah alasan, seperti diantaranya dapat membangkitkan semangat kebrutalan anak-anak dan orang yang bermain game itu.

“Selain itu, permainan perang itu dinilai dapat melahirkan perilaku yang tidak baik. Itulah makanya setelah dua hari dikaji dan mendatangkan para ahli, kita simpulkan bermain game itu adalah haram dan disepakati oleh 47 anggota MPU,” jelas Faisal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here