Gadjah Puteh : Yang Menikmati Elpiji 3 Kg Kebanyakan Warga Mapan

0
259
TABUNG KOSONG: Sejumlah warga Desa Bukit Panjang 1, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang tampak kecewa pulang dengan tangan hampa membawa tabung kosong akibat elpiji ukuran 3 kg langka ditingkat agen pangkalan hingga pedagang eceran di daerah tersebut, Selasa (6/3).
TABUNG KOSONG: Sejumlah warga Desa Bukit Panjang 1, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang tampak kecewa pulang dengan tangan hampa membawa tabung kosong akibat elpiji ukuran 3 kg langka ditingkat agen pangkalan hingga pedagang eceran di daerah tersebut, Selasa (6/3).

Warga Miskin Kesulitan Dapat Elpiji ‘Melon’ 3 kg

AtjehUpdate.com,- Kualasimpang, Warga Desa Bukit Panjang 1, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang merasa kesulitan mencari elpiji ukuran 3 kg, baik di agen pangkalan resmi maupun di tingkat pedagang eceran. Kesulitan mendapatkan gas 3 kg tersebut sudah dialami warga sejak sebulan terakhir. Akibatnya mereka selalu kelimpungan mencari gas, bahkan rela antre berlama-lama dipangkalan demi bisa membawa pulang gas ‘melon’ itu.

“Sudah satu bulan gas 3 kg langka, setiap kali kami mau beli ke pangkalan selalu kehabisan, di kedai pedagang eceran juga tidak ada barang,” kata Suyati bersama Yeni warga setempat kepada media, Selasa (6/3).

Suyati dan Yeni mengaku baru kembali dari pangkalan elpiji terdekat, namun rona wajah mereka kecewa karena pulang dengan tabung gas kosong. Kendati menurut warga ada tiga pangkalan elpiji di desa tetangga termasuk di SPBU Dua Dara, namun ketiga pangkalan tersebut sering kehabisan barang.

Warga juga merasa heran, setiap mobil elpiji masuk ke pangkalan mendistribusikan gas, tak lama kemudian gas sudah habis, sehingga warga miskin yang membutuhkan gas sering tidak kebagian. Sementara, jika mereka beli di kios pengecer, tentu harganya lebih mahal dari pangkalan. “Di pangkalan Rp 18 ribu/tabung, sedangkan di penjual eceran mencapai Rp 20 ribu-Rp 25 ribu/tabung. Tapi gas-nya payah dicari sama-sama langka,” ungkap mereka.

Warga lainnya, Rimbi mengatakan, saat gas langka dia pernah beli gas ukuran 3 kg seharga Rp28 ribu/tabung. Harga itu lebih Rp 10 ribu dari HET. Bagi warga mampu tentu tidak menjadi masalah, tapi untuk warga kurang mampu sepertinya jelas sangat terbebani. “Kami berharap penyaluran gas 3 kg tepat sasaran, khusus untuk warga kurang mampu seperti kami,” ujarnya.

Sekretaris Desa Bukit Panjang 1, Supriadi menyatakan, jika mendapatkan izin akan membangun depot mini isi ulang elpiji khusus untuk warga Bukit Panjang 1. Bahkan pihaknya bersedia memplotkan dana ADD untuk membangun stasiun isi ulang elpiji di desanya tersebut. “Semoga dewan bisa membantu untuk pengurusan izin isi ulang elpiji tersebut guna membantu kami yang selalu kesulitan elpiji 3 kg,” katanya.

Terkait kelangkaan gas 3 kg tersebut, Direktur Eksekutif LSM Gadjah Puteh, Sayed Zahirsyah Al Mahdaly kepada AtjehUpdate.com berkomentar, jika kelangkaan gas elpiji 3 kg dipicu akibat pemerintah melalui PT Pertamina mengurangi kuota, harusnya jajaran terkait dari perusahaan migas melakukan pendataan ulang terhadap warga mampu dan tidak mampu serta pengawasan yang ketat, sehingga penyaluran gas elpiji 3 kg bisa tepat sasaran.

“Sebab, sejauh ini yang justru menikmati gas 3 kg kebanyakan warga mampu seperti PNS dan orang mapan yang punya usaha warung nasi dan warung kopi masih  menggunakan gas 3 kg,” tandasnya.

Menurut Sayed, saat elpiji 3 kg langka warga kurang mampu dihadapkan dengan dua persolan sekaligus, yaitu kelabakan mencari elpiji untuk kebutuhan rumah tangga dan secara otomatis menanggung harga elpiji jauh melampaui HET. Yang banyak terjadi saat elpiji langka di pangkalan, harga selalu tidak terkontrol di tingkat penjual eceran. Bahkan di daerah pedalaman harga elpiji 3 kg menjadi tidak wajar.

“Solusinya, selain dari Pertamina, harus ada juga pengawasan ketat dari anggota DPRK Aceh Tamiang yang membidangi kesejahteraan rakyat agar warga yang berhak benar-benar menikmati,” sebutnya.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here