Oleh: Prof. Dr. Yusuf Sinaga

AtjehUpdate.com,- Ibarat sepasukan besar penjahat yang tidak terbendung kekuatannya. Mereka tidak bisa dilawan oleh siapapun di kampung, maka seseorang merasa sangat perlu mengambil inisiatif untuk melawan kawanan penjahat itu dengan caranya sendiri. Ya, menjadi pioner sendirian. Keinginan sendiri.

Seseorang ini tidak melawan secara terang-terangan. Dia justru bergabung dengan para penjahat itu. Dia pun merasa tidak perlu orang-orang tahu tentang perjuangannya. Yang terpenting baginya, orang-orang selamat dan terlindungi. Dia punya cara-caranya sendiri. Orang sekampung tidak perlu tahu. Sebab tujuannya murni hanya untuk menyelamatkan warga kampung. Dia sudah tahu resikonya, dirinya dimusuhi orang-orang di kampungnya.

Jika analogi di atas belum cukup memuaskan, baiklah kita melakukan analisa dengan perspektif sedikit berbeda melalui pengamatan pada fakta-fakta tertentu, jejak media dan digital, serta mempelajari sejarah panjang perjuangan NU.

Bagaimana mungkin seorang kyai sekaliber KH Ma’ruf Amin yang sejatinya dimusuhi oleh kaum Ahoker mendadak keukeuh menjadi cawapres Jokowi yang justru dibelakang Jokowi mayoritas Ahoker? Konteks “Keukeuh” akan dipahami jika kita memahami penjelasan blak-blakan Prof. Mahfud MD di ILC TV One. Sebuah cerita di balik layar yang mengungkapkan betapa KH Ma’ruf Amin terkesan memaksakan dirinya untuk dicawapreskan oleh Jokowi.

Beberapa serial berikutnya tidak kunjung membuat banyak orang menjadi move on. Berbagai statement maupun manuver KH Ma’ruf Amin yang didukung publikasi luas dari media-media mainstream tidak disadari oleh kubu Jokowi sebagai salah satu faktor penentu menurunnya elektabilitas petahana. Sebut saja contohnya, KH Ma’ruf Amin berjanji jika Nomor 1 menang maka akan menerapkan Islam Nusantara. Padahal konsep Islam Nusantara masih sangat kontroversial dan belum final bagi sebagian besar ulama dan umat islam di Indonesia. Lalu statement tentang mobil Esemka yang menurut KH. Ma’ruf Amin akan diluncurkan pada bulan Oktober 2018. Setelah berlalunya Oktober, publik pun dihidangkan kenyataan, Esemka adalah salah satu bentuk kebohongan paling riil dari rezim.

Belum lagi beberapa ‘lelucon’ lainnya yang tampaknya memang sengaja dipublikasikan secara luas. Mulai tentang jabatannya sebagai Ketua MUI yang tidak ditanggalkan setelah resmi jadi cawapres. Lalu statement KH Ma’ruf Amin tentang usianya yang tergolong masih separuh baya (termasuk muda) menurut standar WHO. Peristiwa lainnya, KH Ma’ruf Amin ‘mendadak dangdut’ dengan ‘berjoget’ di salah satu acara kubu Projo. Yang paling anyar adalah, fakta bahwa tidak ada statement jelas dan tegas dari KH Ma’ruf sebagai seorang ulama terkait kasus pembakaran bendera tauhid.

Langkah-langkah tidak populis ini dimaksudkan agar rakyat semakin antipati terhadap dirinya sendiri. Jika belum mengerti tentang hal ini, kembalilah ke paragraf pertama tulisan ini.

Melalui proses “unik”, KH Ma’ruf Amin berhasil maju sebagai cawapres Jokowi. Itu sudah merupakan kode keras untuk umat islam Indonesia. Seolah KH Ma’ruf Amin berkata, “Jangan pilih saya. Saya tidak layak kalian pilih. Saya sudah sejak awal mengingatkan kalian melalui fatwa MUI bahwa jangan memilih pemimpin yang ingkar janji.”

Keuntungan lainnya yang diperoleh KH Ma’ruf Amin melalui “jalan sunyi” ini adalah munculnya resistensi dari rakyat kepada rezim yang bertolak dari rasa hormat dan bahkan ‘iba’ kepada KH Ma’ruf Amin sebagai seorang kyai yang mereka anggap telah dibohongi atau dikadali oleh rezim. Imej ini tentu sangat berpengaruh. Resistensi ini akan semakin membesar.

Seorang KH Ma’ruf Amin adalah seorang guru bangsa sejati. Beliau sejak muda telah menjadi seorang politisi. Sudah banyak makan asam garam dunia politik maupun dakwah. Di era milenial ini, beliau paham betul kecenderungan pemilih. Paham orientasi mayoritas umat islam. Beliau sangat tahu dimana saja titik lemah rezim ini. Dan yang terpenting, dia tahu betul sampai di mana kekuatan rezim. Hanya beliau yang bisa mengalahkan Jokowi, paling tidak sebagaimana hitung-hitungan beliau sendiri.

Jika analisa ini benar, maka sesungguhnya marwah pak kyai tidak sedang pudar melainkan justru sebaliknya. Sebab apapun dilakukannya untuk bangsa, negara, dan agamanya. Beliau sudah “selesai” dengan dunia. Beliau hanya ingin “berbuat yang terakhir kalinya” buat NKRI.

Ini hanya sebuah perspektif. Sebuah analisa berdasarkan riset, pikiran positif, dan obyektifitas. Wallahualam bisshawab. (Bandung, 2 Nopember 2018).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here