Jokowi Di Sumbar, UAS Di Kepri, Serupa Tapi Tak Sama

0
118

Oleh : Anton Permana

AtjehUpdate.com,- Tiga hari ini dinding FB di penuhi dengan dua berita fenomenal dari dua tokoh nasional yang secara fisik sekilas hampir mirip, sama-sama kurus dan tampilan sederhana. Yang membedakannya adalah status jabatan di dunia. Yang satu bernama Jokowi dengan jabatan Presiden RI, yang satu lagi bernama Ustad Abdul Somad, LC. MA dosen PNS yang yang namanya lagi membumbung tinggi karena ceramahnya yang cerdas, lugas, berisi, bagaikan pelepas dahaga Ummat Islam Indonesia di tengah musim kemarau spritual pasca kriminalisasi Habieb Riziq Syihab.

Bukan maksud mencari perbedaan atau membandingkan tapi memang begitulah adanya, secara materi ilmu Political Marketing tampak dua pola sosialisasi media yg menarik dari dua tokoh bangsa ini. Jokowi dengan power dan infrastruktur kekuasaanya dengan apik memainkan isu kedatangann ini jauh hari sebelum kedatanggannya ke Sumatera Barat yang secara notabone nya beliau kalah telak di Pilpres 2014 yang lalu

Berbagai macam isu pemanasan dimainkan oleh media media mainstream, mulai dari cetak dan elektronik. Semua seragam dan terstrukturisasi sama bukti bahwa out put pemberitaanya memang terkondisikan ala istana ke presidenan.

Mulai dari isu pemberian gelar dari Istano Pagaruyuang (selanjutnya tak jelas lagi keberlanjutannya), Jalan Tol Padang – Dumai, sertifikasi tanah ulayat, dan seterusnya. Jagad dunia pemberitaan di Sumbar di buat sibuk, tak ketinggalan akun akun robot masuk tak tahu saja entah dari mana ke group group lokal dan perantauan komunitas Minangkabau dengan gagah perkasa.

Baca Juga  Ingatkan Pembantunya, Joko Widodo : Jangan Membuat Kegaduhan 

Dari beberapa manuver cipta kondisi strategi ‘water test’ ini lahirlah berbagai macam respon dari masyarakat Minangkabau yang tentu saja lebih mayoritas kontra dari pada pro dan tidak sedikit yang membully dan jadi gorengan kelakar ‘cimeeh’ ala khas urang awak yang bikin lucu dan ketawa.

Setelah pusaran badai cipta kondisi media ini, maka sampailah akhirnya Sang Presiden datang dengan rombongan standar pengamanan VVIP RI-1. Jalan jalan di blokir, ratusan bahkan ribuan wartawan hadir (namanya saja HUT HPN), ratusan pengawal tegap dan sigap (dengan ciri khas berbaju batik, cepak, tegap, dan kabel kecil di telinganya).

Bombardir media dimana mana dengan berbagai corak dan enggel photo. Tak lupa seperti biasa, masyarakat bertumpuk di satu titik berbaris sambil teriak teriak memanggil nama Sang Presiden, photo di sawah sambil jalan kaki bawa payung di tengah hujan, terakhir hadiah sepeda bagi emak-emak yang membuat koment positif di FB nya tentang Presiden. Luaarrr biasa….

Semua pemberitaannya tertata rapi, terstruktur, seragam, dimana intinya adalah seolah-olah ingin menyampaikan kepada rakyat Sumatera Barat, bahwa sudahlah Jokowi pada pilpres 2019 nanti adalah pilihan yg terbaik (sesuai cuap cuap manis kata sambutan ketua PWI Sumbar), lupakan masa lalu, lihatlah tampilannya yang sederhana dan paling berjasa buat masyarakat Minang dengan berbagai argumen ‘Bungo bakarang’ kuli tinta. Setidaknya demikian ‘framing’ media ciptakan.

Baca Juga  Berhentilah Memodifikasi PANCASILA

Demikian hebbohnya berita, persiapan, atas kedatangan presiden ke Sumatera Barat, kita tak tahu entah berapa dana dan uang rakyat di pakai dan di hamburkan untuk sebuah prosesi ini. Namun yang jelas, penulis simpulkan biaya yang di keluarkan sangat tidak sesuai dengan out put acara yang disajikan. Gempita isu yang di beritakan tidak sesuai dengan respon masyarakat real di lapangan. Semua jelas di paksakan dan penuh polesan lipstick pencitraan. Besar pasak daripada tiang, angek tadah pado galeh. Yah begitulah…

Sangat jauh berbeda dengan kedatangan UAS di Kepri. Minim baliho. Minim spanduk. Apalagi Cipta kondisi media mainstream cetak dan elektronik. Semua mengalir apa adanya. Disiapkan oleh panitia kecil apa adanya. Sosialisasi hanya di sosial media dan WA. Satu bulan jadwal UAS sudah beredar entah dari mana sumbernya.

Tapi semua seolah berlomba secara sukarela menyebar luaskan kedatangan Ustadz fenomenal ini. Puluhan ormas menyatakan diri siap jadi tameng pengawalan UAS. Para tokoh, pejabat, pengurus mesjid seolah ingin berlomba ingin melayani UAS dengan senang hati.

Baca Juga  Politik Uang dan Demokrasi

Hasilnya sama kita lihat sendiri. *Jamaah yang hadir luar biasa membludak hampir di setiap titik kegiatan.* Puluhan ribu masyarakat tumpah ruah ingin mendengarkan ceramah Ustad jebolan Al Azhar dan Maroko ini. Baik shubuh, dhuha, khutbah jumaat, di Masjid, di lapangan, di Polda, bahkan di pulau pun antusias masyarakat seakan tak terbendung.

Sungguh dua fenomena yang sangat kontras dan unik. Tapi demikianlah apa adanya. Allah seakan memperlihatkan dua diaspora kehidupan nyata di hadapan kita. Silahkan kita menilai, menelaah dari dua maksud tersembunyi dari dua kejadian ini. Silahkan gunakan mata batin kita untuk membaca dengan jernih, demikianlah putaran kehidupan yg kita alami sekarang

Kita di hadapkan pada dua sisi kehidupan yang nyata.

Silahkan kita akan berada di posisi yang mana. Bersama penguasa yang penuh rekayasa dan tipu daya, atau bersama Ulama ummat yang bersatu padu dalam bahasa cinta dan persaudaraan.

WALLAAHU a’lam.

*ALLAAHU Akbar…!*

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here