AtjehUpdate.com,- Banda Aceh, Terpilihnya secara demokrasi geuchik perempuan di beberapa gampong di Aceh, seperti Hj Sarmi di Gampong Medang Ara, Kecamatan Langsa Timur, Kota Langsa,  serta Cut Zaitun Akmal, ST, Gampong Seuneubok, kecamatan Seulimuem Aceh Besar membuat decak kagum masyarakat terutama para aktifis perempuan yang menilai persentase jabatan strategis yang diperoleh perempuan sangatlah minim saat ini, maka kemampuan mereka bersaing patut diacungi jempol.

Perjuangan menjadi pemimpin ditengah persaingan ketat para kaum Adam tentu tidaklah mudah,bahkan dianggap sebagai kelangkaan,  lagi-lagi agama seolah menjadi penghalang utama.

Bagi Hj Sarmi yang telah terpilih untuk periode kedua sebagai Geuchik di gampongnya, dalih Agama memang sering dimunculkan sebagai strategi pihak lawan.

“Iya diperiode awal dulu begitu, tapi itukan biasa karena persaingan, apa lagi aturan yang berlaku saat ini tidak melarang calon perempuan, dan geuchik itu kan bukan memimpin Agama, kami hanya perpanjangan tangan pemerintah” ujarnya.

Menurut Sarmi bahwa terpilihnya ia diperiode awal adalah karena dukungan masyarakat yang ingin gampongnya mengalami perubahan kearah yang lebih baik, sehingga keberhasilan di periode awal membuat ia kembali terpilih karena telah terbukti bukan sekedar janji.

“Alhamdulillah karena masyarakat melihat ada perubahan ketika saya terpilih di periode awal maka saya dipercayai lagi, tapi sejak dulu pun memang mereka ingin ada figure perempuan karena selama ini ketika laki-laki yang memimpin tidak ada perubahan yang dirasa masyarakat” jelasnya.

Tak hanya Hj Sarmi, hal serupa juga dialami Cut Zaitun Akmal, ia mengatakan keputusannya terjun dalam pemilihan geuchik karena baginya perempuan sebenarnya lebih dekat dengan masyarakat.

Sayangnya, Hj Sarmi hanya mendapat tekanan atau penilaian negative dimasa kampanye saja dari pesaingnya, namun Cut Zaitun mendapat cercaan negative para warganet yang melihat video  pelantikannya di social media.

“Ka mubalek donya” ucap akun Ary Aneuk Aceh

“Jameun ka ache inong ka jeut keu pemimpin” tulis akun Ahamd Zubaidi.

Beberapa komentar negative tersebut membuat kekecewaan banyak pihak terutama para aktifis perempuan yang menilai hal itu sebagai kekerasan psikis sehingga dikhawatirkan berimplikasi pada keberadaan Geuchik itu sendiri.

“Tidak menutup kemungkinan berimplikasi pada keberadaan geuchik itu sendiri dan terhambatnya program kerja jika kepemimpinannya didiskreditkan sebelum diberi kesempatan ia menjalankan tugasnya” ujar aktifis Solidaritas Pembela Keterwakilan Perempuan (SPKP), Destika Gilang, Sabtu (28/07/2018).

Senada dengan Gilang, Prilaku warganet yang “membully” Geuchik Cut Zaitun Akmal juga disayangkan oleh Soraya Kamaruzzaman, Presidium Balai Syura Ureung Inong Aceh.

Dijelaskan Soraya, Pilkada satu tahun lalu membuahkan hasil dari 23 Kabupaten/Kota hanya ada satu Wakil Walikota Perempuan. Sementara di legislatif DPR/DPRK hasil pemilu 2014 ada 679 laki-laki dan hanya 72 (9,59%) perempuan.

Karena berbagai tantangan yang dihadapi perempuan terutama budaya patriarkhi dan beredarnya tafsir ajaran agama yang menganggap perempuan tidak boleh menjadi pemimpin maka saat ini  dari 6.497 Gampong di Aceh, jumlah keuchik perempuan di Aceh tidak sampai dengan 5 jari, satu diantaranya Geuchik di Gampong Cot Mesjid di Banda Aceh.

Hj Sarmi, satu satunya Geuchik di kota Langsa yang baru saja dilantik untuk periode ke 2
Hj Sarmi, satu satunya Geuchik di kota Langsa yang baru saja dilantik untuk periode ke 2

Situasi ini bertolak belakang dengan sejarah kepemimpinan perempuan di Aceh, dimana Aceh pernah dipimpin 5 Ratu dalam masa waktu 59 tahun, salah satu Ratu yang sangat terkenal adalah Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat sampai dengan Ratu terakhir Sultanah Sri Ratu Kemalat Syah (1641 – 1699 M).

Soraya juga sangat mengapresiasi masyarakat Gampong Seuneubok yang memilih pemimpin yang mereka percayai, tanpa mempersoalkan jenis kelamin. “Ini sungguh-sungguh luar biasa, semoga Beliau menjadikan kearifan Ratu Safiatuddin dan kecerdasan Siti Aisyah sebagai  teladannya dalam memimpin” lanjutnya .

Pasca mendapatkan komentar negative oleh warga net, banjir dukunganpun mengalir Ke Geuchik Cut. Tak hanya balai Syura dan SPKP, Riswati, Direktur Flower Aceh juga menyatakan dukungan terhadap terpilihnya Cut Zaitun Akmal, ST. Ia berharap, dengan terpilihnya perempuan sebagai pemimpin tertinggi di Gampong, penggunaan Dana Desa menjadi lebih pro pada kepentingan kelompok rentan/marginal, termasuk mengalokasikan dana dan program  peningkatan SDM remaja dan kepemimpinan perempuan.

Amrina Habibi, Ketua P2TP2A Propinsi Aceh juga menyatakan dukungannya terhadap Cut Zaitun Akmal, ST dan berharap akan banyak perubahan baik dari kerja-kerja inovasi Cut Zaitun.

Mengenai cara kerja, bagi Hj Sarmi yang telah bekerja di periode lalu, Perempuan cenderung lebih memiliki rasa takut untuk berbuat salah, terutama terkait keuangan.

“Semoga semua geuchik perempuan yang terpilih bisa amanah dan membuktikan kepada masyarakat hasil kerjanya yang baik, bagi saya perempuan itu lebih teliti dalam bekerja dan angka kenakalan perempuan juga lebih rendah dibanding pria “ terang Sarmi yang menurutnya malah tokoh Agama di gampongnya turut mempercayai dan memilih dirinya dalam memimpin Gampong. (Sherly Maidelina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here