Ketua MIUMI Kecam Euforia Ngecat Baju dan Rambut Usai Ujian Nasional

0
67

AtjehUpdate.com,- Banda Aceh,  Mengecat baju dan rambut yang dilakukan oleh para siswa SMA di Aceh setiap tahunnya dalam merayakan kelulusan Ujian Nasional (UN) mereka, khususnya para siswa yang baru lulus ujian baru-baru ini (Rabu, 2 Mei 2018) dikecam oleh Ustadz DR Muhammad Yusran Hadi, Lc.

Muhammad Yusran mengaku resah, pasalnya ia langsung memperhatikan gelagat para siswa paska UN,  beramai-ramai  dari berbagai SMA di Banda Aceh dan Aceh Besar melakukan konvoi sepeda motor, sampai membuat macet jalan dari simpang masjid Ulee Lheu menuju Masjid Babul Maghfirah Pekan Bada  hingga waktu maghrib tiba. Sebahagian besar dari mereka juga bergoncengan antara laki-laki dan perempuan.

Ketua Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh ini juga mengutarakan bahwa sepatutnya sebagai orang yang terpelajar, para siswa tidak melakukan perilaku buruk tersebut,

“Terlebih lagi di waktu azan maghrib mereka masih berkumpul dan berhura-hura. Ini menunjukkan mereka tidak punya akhlak dan tidak terdidik dengan baik. Inilah kondisi anak-anak kita yang sangat memprihatinkan kita. Krisis akhlak dan pengamalan agama” tegasnya.

Bagi Yusran, perilaku para siswa itu telah melanggar syariat Islam yang melarang menyerupai dan mengikuti orang kafir. Selain persoalan tak boleh mengecat rambut dan baju, bercampur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram (ikhtilath) dan berboncengan di atas honda antara siswa laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Juga sangatlah tidak dibolehkan dalam Syariat.

“Persoalan ini merupakan tanggung jawab para orang tua dan guru sekolah masing-masing. Sepatutnya mereka telah mendidik anak-anaknya dengan akhlak yang mulia dan Islami” imbuhnya.

Ustadz Yusran juga berharap bahwa sepatutnya para siswa menyikapi kelulusannya itu dengan bersyukur kepada Allah Swt, bukan dengan maksiat. Bersyukur kepada Allah bisa dilakukan dengan berdoa, bersedekah, memberi makan orang lain, dan mengerjakan ibadah-ibadah Sunnat serta menjaga diri dari maksiat.

Guna mengantisipasi hal tersebut tak terjadi lagi, Da’I Pemerhati social dan Agama ini berharap agar  pihak sekolah menfokuskan dan memprioritaskan pendidikan akhlak dan agama. Sekolah sepatutnya memberi sanksi bagi siswa yang berperilaku buruk seperti ini dengan dicabut kelulusannya tahun ini. Juga meminta kepada pemerintah Aceh untuk memberi teguran kepada sekolah-sekolah yang siswanya terlibat dalam pesta hura-hura dan maksiat tersebut serta juga diperlukan peran Pemerintah Aceh untuk mengevaluasi kurikulum yang diajarkan di sekolah-sekolah.

“Mata pelajaran akhlak dan agama mesti diajarkan di sekolah dengan skala prioritas dan jam yang lebih banyak dari mata pelajaran lainnya” sarannya.

Terakhir Yusran Hadi juga meminta kepada pihak polisi dan Wilayah Hisbah (WH) untuk bertindak dengan melarang dan membubarkan kegiatan para siswa tersebut.

“Jika perlu ditangkap dan diberikan pembinaan di kantor polisi atau kantor WH. Kegiatan mereka telah mengganggu kenyamanan masyarakat dan melanggar syariat” tutupnya.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here