AtjehUpdate.com, Jakarta
Persekusi
jadi kata favorit saat ini. Kata tersebut muncul tiba-tiba, menyeruak di
belantara pemberitaan di seantero negeri. Kata yang terkesan seram tersebut
beberapa hari ini bertengger manis di deretan atas pada daftar kata paling
diingat warga masyarakat. Kemunculan kata persekusi tidak lepas dari penggunaan
kata itu oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla beberapa waktu lalu saat memberikan
komentarnya atas fenomena “pengeroyokan” sekelompok warga terhadap seorang anak
berusia 15-an tahun di Jakarta Timur.
Tulisan ini dimaksudkan
untuk melihat apa sebenarnya mahluk bernama persekusi itu. Juga, pada konteks
apa sesungguhnya gejala persekusi menjadi permasalahan serius bagi suatu
komunitas atau bangsa. Lagi, apa yang sebaiknya dilakukan dalam mengendalikan
“mahluk kudisan” ini?.
Menurut asal katanya,
persekusi berasal dari kata _persecution_ (bahasa Inggris), yang artinya
*penganiayaan*. Persekusi juga dipahami sebagai penindasan, penyiksaan, dan
perburuan (untuk disiksa, dibantai) terhadap seseorang atau sekelompok warga.
Dalam makna yang lebih luas, penghambatan (ketika seseorang berusaha
menyelamatkan diri) dapat dikatakan juga sebagai tindakan persekusi.
Persekusi umumnya
digunakan untuk merujuk kepada sesuatu tindakan yang terkait dengan ras, agama,
etnisitas, orientasi seksual, jenis kelamin, atau status sosial. Oleh karena
itu, dapat dipahami jika perilaku persekusi tidak dapat ditujukan pada
kasus-kasus yang berhubungan dengan politik, ekonomi, dan kejahatan umum. Pada
beberapa kasus pemukulan atau penganiayaan oleh polisi terhadap mahasiswa yang
berdemo, misalnya, juga penindasan petani pemilik lahan oleh para centeng
perusahaan, tidak dimasukan ke dalam kasus persekusi.
Secara faktual, persekusi
biasanya melibatkan dua pihak yang berbeda pandangan, pendapat, pemikiran
dan/atau opini. Perbedaan, yang awalnya hanya berada dalam ruang pikiran itu,
seringkali menimbulkan rasa tidak nyaman dalam hati para pihak, yang akhirnya
muncul dalam bentuk keinginan untuk menggunakan tindakan fisik untuk memaksa
pihak lain mengikuti pendapat atau pemikirannya. Untuk melakukan tindakan
memaksa secara fisik tersebut, seseorang atau sekelompok orang membutuhkan
kekuatan yang lebih besar, meng-atas-i kekuatan pihak lawan. Keadaan superior
dari yang lain menjadi mutlak. Harus ada pihak yang lebih kuat, bahkan jauh
lebih kuat dari yang lain. Jika tidak, maka upaya memaksa secara fisik akan
sia-sia alias persekusi gagal.
Superioritas kelompok
sangat dibutuhkan untuk bisa menaklukan lawan melalui tindakan persekusi.
Seseorang atau sekelompok warga biasanya akan mencari simbol tertentu sebagai
alas legitimasi dalam menggalang kekuatan. Jadilah kesamaan ras, agama,
etnisitas, orientasi seksual, jenis kelamin, atau status sosial dipilih sebagai
basis mendulang kedigdayaan kelompok. Di sepanjang sejarah peradaban manusia,
kesamaan ras dan agama lebih dominan digunakan untuk menggalang superioritas
kelompok.
Menjaga eksisentsi ras dan
mengembangkannya, agar lebih membesar dari sisi jumlah, menjadi salah satu
motivasi utama bagi setiap orang untuk hidup berkelompok. Menjadi bangsa yang
besar, yang umumnya diukur dengan angka, juga wilayah kekuasaan yang dimiliki,
adalah sebuah kebanggaan. Umumnya, ini akan dipandang juga sebagai sebuah
kehormatan. Kesamaan ras menjadikan sejumlah warga menjadi sangat kuat ikatan
simpati dan empati-nya, yang kemudian melahirkan kekuatan dalam menghadapi
berbagai persoalan bersama.
Sama halnya dengan ras,
menjaga eksistensi agama dan mengembangkannya agar lebih banyak orang tergabung
dalam golongan agamanya, menjadi pemicu semangat berjuang bagi para pemeluk
agama tersebut. Kesamaan keyakinan pada agama tertentu menjadi pengikat solidaritas
bagi seluruh pengikut agama dimaksud. Miliaran umat manusia saling berbangga
hati “memamerkan” agama dan kepercayaannya sebagai yang terbesar, terbaik,
terpercaya, dan mungkin terkuat, di depan umat lainnya.
Ras dan agama menjadi alat
paling efisien dan efektif dalam menggalang kekuatan kelompok yang dapat
sewaktu-waktu digunakan untuk melakukan persekusi. Solidaritas berbasis ikatan
emosional karena kesamaan ras dan/atau agama didukung oleh soliditas yang padu,
melahirkan energi potensial yang luar biasa, yang sewaktu-waktu dapat digunakan
untuk apa saja sesuai keinginan kelompok se-ras dan/atau se-agama. Kekuatan
inilah yang kemudian digunakan untuk memaksa pihak lain yang berseberangan
pandangan, pendapat, dan pemikiran, untuk takluk kepada kelompoknya.
Dari uraian di atas,
kiranya dapat dimengerti bahwa fenomena _persekusi muncul karena adanya dua
perbedaan utama, yakni: perbedaan pandangan (pendapat, pemikiran, opini) dan
perbedaan kekuatan (power, superioritas)_. Oleh karena itu, persekusi sulit
terjadi jika kedua prasyarat itu tidak terpenuhi. Jika dua pihak yang
berseberangan memiliki pendapat yang sama, mereka akan melebur menjadi satu.
Demikian juga, jika kedua pihak berada pada posisi imbang dari sisi kekuatan
kelompok, maka proses negosiasi win-win solution biasanya menjadi pilihan.
Nah, apa yang mesti
dilakukan dalam mengeliminir tindakan persekusi di masyarakat, terutama di
lingkungan kita masing-masing? Menyamakan ras dan agama, termasuk etnisitas,
orientasi seksual, jenis kelamin, atau status sosial, mustahil dapat kita
lakukan. Ini berarti, tindakan persekusi setiap saat sangat mungkin dapat
terjadi. Namun sebagai manusia berakal dan beradab, kita diberi kecerdasan
untuk mampu mengatasi “nafsu persekusi” itu melalui beragam cara. Salah satunya
adalah menihilkan kedua faktor utama pemicu terjadinya persekusi, yakni
*meminimalisir perbedaan pandangan dan perbedaan posisi kekuatan* masing-masing
kelompok yang berseberangan.[Red]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here