AtjehUpdate.com, Aceh Selatan
Unit Layanan Pengadaan (ULP)  Kabupaten
Aceh Selatan diduga lakukan kecurangan dalam proses tender, hal ini diketahui
berdasarkan dari laporan para pengusaha rekanan dan dari hasil pemantaun LSM
FORMAK selama ini khususnya pada Tahun Anggaran 2017.
Ketua LSM Forum Pemantau
dan Kajian Kebijakan (Formak) Ali Zamzami Minggu (16/7), kepada AtjehUpdate.com
mengatakan, “kita menduga adanya kecurangan yang dilakukan Unit Layanan
Pengadaan (ULP)  Kabupaten Aceh Selatan
dalam proses tender”.
“Dari pantauan kami pada
tahun 2017 ini permainan curang tersebut diduga karena ada arahan dari orang
yang memiliki kekuasaan di daerah ini untuk memenangkan perusahaan tertentu
milik orang dekatnya”. Ujar Ali.
Menurutnya lagi, walau
banyak perusahaan yang ikut mendaftar dalam setiap proses tender, namun sangat
sedikit yang memasukkan penawaran, ini terjadi karena diyakini pada setiap
paket proyek yang dilelang itu sudah ada pemiliknya yang diarahkan, sehingga
peserta yang sudah mendaftar mengurungkan niat untuk membuat penawaran yang
menurutnya hanya membuang buang energi dan uang saja lantaran sdh dapat
dipastikan tidak akan masuk nominasi nantinya walaupun penawaran dibuat sebagus
mungkin.
Selain itu dapat dilihat
dari jumlah perusahaan yg memasukkan penawaran pada setiap paket yang dilelang
itu rata-rata hanya diikuti oleh peserta tunggal dan kalaupun ada satu dua yang
masuk itu diduga merupakan gruop persekongkolan dari pemilik paket yag sudah
diarahkan itu juga.
Aneh dan mencurigakan
sekali bahkan ULP berani memenangkan perusahaan yang tidak mencukupi
persyaratan sebagaimana diatur dalam PERPRES NO.54 TAHUN 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa, dan bukan sebagai penawar terbaik justru bisa menang.
Lanjut Ali, “Hal ini
memang sudah menjadi rahasia umum di aceh selatan kalau panitia atau pokja ikut
bermain dalam memenangkan suatu perusahaan tertentu, dan yang juga sangat
memprihatinkan adalah selama ini perusahaan lokal milik putra daerah seperti
termarjinalkan dengan banyaknya perusahaan luar yang jadi pemenang tender yang
diduga sengaja dibawa oleh orang-orang dekat kekuasaan, walaupun ada perusahaan
lokal yang mendapatkan kontrak pengerjaan itu adalah “Pinjam bendera”
istilahnya, sedangkan pemilik SBU (perusahaan) itu sendiri hanya makan jasa
(fee) perusahaan semata”.
“Persoalan ini bukan
hanya asumsi belaka, tapi kita sudah melakukan investigasi yg mendalam dan ada
temuan indikasi kasus yang saat ini sedang kita persiapkan berkas laporannya,
insyaallah dalam waktu dekat akan kita laporkan ke pihak berwajib di kabupaten
Aceh selatan atau ke Provinsi nantinya” pungkasnya.[FT]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here