Mau Kemana LGBT Aceh?

0
127
Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (HIMAPOL) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh
Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (HIMAPOL) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh

Butir-butir pemikiran Mahasiswa Ilmu Politik UIN Ar-Raniry Banda Aceh

AtjehUpdate.com,- Lesbian-Gay-Bisexual-Transgender (LGBT) adalah pola hidup sejenis yang sedang menjadi pembicaraan publik hari ini. Di Banda Aceh saja, terdapat sekitar lima ratusan orang LGBT yang rata-rata berusia remaja atau masih berstatus mahasiswa (tempo.com). Ini adalah sebuah angka yang menakutkan.

Sejarah masuknya LGBT ke Indonesia dimulai pada paruh akhir tahun dua ribuan yang dimulai dengan hebohnya pernikahan sesama jenis di Bali pada tahun 2015. Sementara itu, sejarah masuknya LGBT ke Aceh dimulai dari ditangkapnya Hartoyo, pegiat hak-hak LGBT pada tahun 2007. Peristiwa ini diikuti oleh penangkapan pasangan gay di beberapa tempat lainnya di seluruh Aceh, dan terakhir adalah penangkapan yang terjadi di Rukoh Darussalam pada tahun 2017.

Dalam kasus itu, dari sisi usia, gay yang berasal dari Sumatera Utara berusia 24 tahun, sementara pasangannya yang berasal dari Bireun berusia 20 tahun dan berprofesi sebagai mahasiswa Akper Cut Nyak Dien (bbc.com). Bisa dipastikan dari dua peristiwa tersebut, LGBT merupakan tren atau gaya hidup yang di-impor dari luar Aceh.

Sudah jamak dalam pemahaman, LGBT ini memiliki banyak sekali dampak negatif. Pertama, menimbulkan penyakit-penyakit kelamin seperti HIV, kanker serviks dan meningitis, serta kanker anal dan kanker mulut. Kedua, berkurangnya angka kelahiran manusia karena hubungan sejenis tidak memiliki fungsi reproduksi. Sementara keberlangsungan organisme sangat bergantung pada proses reproduksi makhluk hidup. Ketiga, pada tingkat komunitas, tren LGBT akan meresahkan orang tua yang anak-anak mereka terpapar pada perilaku dan gaya hidup tidak sehat.akan

Baca Juga  Konglomerat Politik Nasional

Lebih jauh, LGBT adalah juga penyakit jiwa dimana seseorang mengalami gangguan orientasi seksual yang dipicu oleh adanya pengalaman dalam masa membangun relasi antar jenis kelamin, seperti kegagalan berpacaran, atau juga dipicu oleh ekspektasi yang berlebihan dari orang tua terhadap anak-anak yang berada di bawah asuhannya khususnya terkait dengan peran jenis kelamin. Selain alasan diatas, LGBT juga lahir dan tumbuh karena faktor genetis dan kelebihan hormon (bbc.com).

Ada apa dengan LGBT Aceh? Sejarah Aceh tidak pernah mengenal adanya gaya hidup sesama jenis, dan masyarakat Aceh yang menganut nilai-nilai Islam mengutuk keras perilaku LGBT ini adalah penyimpangan orientasi seksual seperti yang tercantum dalam firman Allah SWT surat Al-Araf ayat 81. Dari semua argumentasi diatas, orang Aceh sangat kontra dengan konsep LGBT ini, karena itu lah para pelaku LGBT harus dihukum seberat-beratnya untuk menimbulkan efek jera pada pelaku.

Pada tanggal 23 Mei 2017 telah dilaksanakan eksekusi hukum cambuk terhadap 1 pasang pelaku LGBTdi Desa Lamgugop, Banda Aceh. Hukuman seperti ini dibutuhkan karena LGBT dianggap sebagai virus yang membahayakan moral masyarakat dan untuk menghentikan penyebarannya ke komunitas lain

Baca Juga  24 Unit Rumah dan Tempat Usaha Rusak Diterjang Puting Beliung

Cambuk ini dalam beberapa kasus memang memberikan efek jera. Namun hal tersebut juga menyadarkan para pelaku untuk lebih berhati-hati agar aksi mereka tidak ditemukan, bukan semata-mata untuk menghentikan mereka dari melakukan tindakan tersebut.

Terdapat juga pandangan yang kontra terhadap pemberlakuan cambuk. Mereka menganggap bahwa mencabuk pelaku LGBT yang melakukannya atas dasar suka sama suka, lalu dihukum, maka hal tersebut dianggap melanggar HAM. Karena itu banyak sekali kritik yang mengarah pada pemerintah Aceh yang pada waktu itu telah melaksanakan eksekusi hukum cambuk.

Apakah pemerintah punya political will? Pemerintah tidak memberikan perhatian serius pada diskursus LGBT karena sejauh ini isu LGBT belum terlalu marak, tidak terlalu menggangu stabilitas pembangunan dan meyakini bahwa masyarakat tidak akan terpengaruh dengan isu ini. Ditambah lagi, beberapa studi mencatat bahwa pencegahan isu LGBT akan berdampak pada adanya pelambatan pertumbuhan ekonomi sebesar 0.1%.

Pemerintah kurang pro-aktif dalam memberikan wawasan dan informasi kepada masyarakat akan bahayanya LGBT terhadap kesehatan. Secara khusus, aparatur pemerintahan telah bersikap lalai dalam mengawasi maraknya LGBT.

Pada sisi lain, ada upaya yang dilakukan oleh pihak luar untuk menghancurkan pemberlakuan Islam di Aceh.

Baca Juga  Peringatan 13 Tahun Tsunami Aceh

Pemerintah Aceh pernah menangkap pasangan homo yang berpangkalan di Ajin Salon, Pocut Baren pada tahun 2015. Namun dari sekian banyak salon yang beroperasi di Banda Aceh, hanya salon tersebut yang pernah digerebek oleh pemerintah. Tindakan pemerintah dalam hal ini sungguh tidak maksimal.

Pemerintah juga agak menahan diri misalnya dalam perkara penertiban salon-salon kecantikan karena akan mengganggu karyawan dimana mereka kehilangan pekerjaan. Kelemahan lain, dalam konteks salon, pemerintah hanya sebatas mengeluarkan izin operasi saja, namun tidak mengawal proses operasional kerja sehingga terjadi banyak penyalahgunaan. Pemerintah baru akan mengevaluasi keberadaan salon tersebut jika mereka menunggak bayar pajak.

Lalu, bagaimana agar LGBT tidak terus berkembang. Pertama, untuk menahan lajunya penyebaran virus LGBT maka perlu adanya penambahan jam belajar tentang kesehatan reproduksi dan agama di sekolah-sekolah. Sementara bagi mereka yang sudah terkena virus LGBT maka ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk memberi efek seperti dicambuk di depan publik atau atau wajahnya disebarkan ke publik dalam bentuk poster-poster, termasuk juga dilakukannya rehabilitasi kejiwaan di pondok-pondok pesantren.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here