Meningkat Drastis, Selama Ramadhan Sampah Aceh Tamiang 22 Ton Sehari

0
64

AtjehUpdate.com,- Kualasimpang, Selama bulan Ramadhan 1439 Hijriah/2018, volume sampah di Kabupaten Aceh Tamiang mencapai 22 ton sehari atau bertambah 100 persen lebih dari hari biasanya. Akibat itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Aceh Tamiang harus mengangkut sampah-sampah tersebut secara rutin tiga kali dalam sehari.

“Sampah itu disumbang dari sisa-sisa jualan masyarakat selama bulan Ramadhan. Selain sampah rumah tangga, kebanyakan sampah dari pedagang musiman yang didominasi oleh sampah ampas tebuh sama batok kelapa muda dan plastik bekas bungkusan pakaian,” kata Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 pada DLH Aceh Tamiang, Asnawi, SKM kepada AU.com, Sabtu (2/6).

Dijelaskan, sampah organik bercampur nonorganik menumpuk dimana-mana meliputi kawasan desa hingga sudut perkotaan. Biasanya untuk Kota Kualasimpang telah disiapkan empat unit dump kontainer berkapasitas masing-masing 2,5 ton, namun kini kontainer harus ditambah lagi.

“Kalau hari biasa empat kontainer itu cukup, bisa menampung 10 ton sampah setiap hari. Tapi selama Ramadhan sudah ditambah lima kontainer lagi, jadi totalnya ada sembilan kotainer, dua unit diantaranya berada di depan pajak Kualasimpang,” terangnya.

“Setiap kontainer memuat 2,5 ton sampah, jika dikalikan sembilan berarti sampah di Aceh Tamiang selama Ramadhan sekitar 22,5 ton setiap harinya yang harus diangkut pagi, siang dan malam,” tandas Asnawi.

Pihaknya mengakui saat ini mengalami kekurangan armada dump truk dan kontainer sampah.Jumlah armada pengangkut sampah yang dimiliki DLH Atam hanya empat unit yang kondisi mesinnya masih sehat. Namun demikian, armada tersebut juga mengambil sampah di setiap kecamatan, membuat petugas kebersihan menjadi kewalahan.

“Armada kita memang kurang, tapi agar sampah tetap bisa terangkat kami telah berupaya melakukan patroli malam menggunakan satu unit truk raun keliling Kota Kualasimpang dan Karang Baru kerja lembur hingga jam satu malam,” ujarnya.

Menurut Asnawi, volume sampah kota bisa meningkat drastis dikarenakan masyarakat yang tinggal di seputaran Kota Kualasimpang membuang sampah justru ke kota. Seharusnya kata dia, pihak desa dan masyarakat dapat mengelola sampah sendiri untuk menciptakan pendapatan desa.

“Seharusnya masyarakat sekitar Kualasimpang tidak lagi membuang sampah di kontainer yang ada di kota. Mereka cukup membayar Rp 2000-Rp 5000/bulan kepada pihak desa untuk iuran kebersihan dan uangnya masuk ke Kas desa. Kemudian, sampah rumah tangga dari masyarakat akan diangkut menggunakan becak Viar roda tiga. Jadi kedepan lebih mudah, karena hanya sampah kota saja yang kita angkut,” sarannya.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here