AtjehUpdate.com,- Sigli, Muntasir (12) anak yatim dhuafa desa Pasie Rawa kecamatan Kota Sigli ini terpaksa hanya bisa menunggu uluran bantuan bagi yang terketuk untuk membiayai pengobatan yang harus ia jalani. Penyandang disabilitas yang mengalami lumpuh layu sejak usia 18 bulan ini , terpaksa menjalani hidup dengan banyak keterbatasan. Jangankan pendidikan, bahkan untuk mendapatkan pengobatan yang ia butuhkan saja , keluarganya tak mampu.

Marliana (40) sang ibu yang suaminya telah meninggal dunia di laut sejak 2002 silam terpaksa membesarkan ketiga anaknya seorang diri. Dengan upah sebagai penganyam tikar hanya Rp. 7000 per hari tentu membuat Marliana tidak sanggup membiayai pengobatan Muntasir yang harus dirujuk ke RS Zainal Abidin, Banda Aceh,  bahkan ia juga tidak sanggup membelikan sebuah kursi roda untuk anaknya tersebut.

Bukan hanya tidak bisa berjalan, bahkan Muntasir juga mengalami gizi buruk karena terbatasnya pendapatan ekonomi keluarga.

“Waktu itu saat usianya 18 bulan, ia mengalami demam dan mengalami epilepsi, saya bawa ke puskesmas saja. Sejak saat itu dia sering kejang-kejang dan pertumbuhannya ngak sempurna, kakinya mengecil” terang Marliana kepada AtjehUpdate.com, Jumat (1/2/2019).

Derita Marliana didengar oleh Nurmalawati, salah satu relawan kemanusiaan asal Pidie. Melalui koleganya, Mala (sapaan akrab Nurmalawati) berusaha semaksimal yang ia bisa untuk mengumpulkan dana guna pengobatan Muntasir.

“Awalnya tim dokter dari Sigli memang sudah merujuk Muntasir ke RSU ZA tapi ibunya tidak punya biaya, jadi kami upayakan hingga akhirnya ada dermawan yang membiayai keberangkatan ia dan ibunya” terang Mala.

Lanjut Mala, kemarin, Jumat (1/2/2019) Muntasir telah dibawa ke RSU ZA, dan untuk menjalani pengobatan ia juga butuh transfusi darah.

“Sebagai relawan kemanusiaan saya berharap agar pemerintah dan pihak pihak lain yang punya tanggung jawab untuk masalah ini serta para dermawan  agar mau membantu Muntasir, karena selain ia adalah anak yatim dhuafa, ia juga disabilitas dan gizi buruk sehingga butuh bantuan untuk pengobatan dan terapi yang harus rutin ia lakukan” harap Mala.

Kini Muntasir harus dirawat jalan Banda Aceh – Sigli karena tidak memungkinkan ia untuk menginap lama  oleh karena Sang Ibu juga memiliki dua anak lainnya di rumah.

Bagi relawan kemanusiaan seperti Mala dan teman-temannya, membantu sesama adalah panggilan jiwa. Muntasir hanya satu nama diantara puluhan deret nama derita kaum dhuafa yang sudah selayaknya mampu mengetuk para dermawan yang memiliki kemudahan dana untuk membantu, serta pemerintah yang tentu punya tanggung jawab mengatasi kesejahteraan rakyatnya terutama anak-anak disabilitas dan penderita gizi buruk. (Sherly Maidelina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here