AtjehUpdate.com,- Jakarta, Tingginya harga tiket pesawat rute Domestik beberapa minggu lalu hingga di Aceh banyak warga yang membuat passpor hanya untuk transit menimbang perjalanan mereka ke Jakarta akan lebih murah jika lewat Malaysia. Aksi tersebutpun akhirnya membuat maskapai menurunkan harga tiketnya, (14/1/2019) Indonesia National Carriees Association (INACA) memutuskan untuk menurunkan harga tiket pesawat dari 20% hingga 60%.

“Kesepakatan ini sudah kami sampaikan kepada Kemenhub. Semua adalah inisiatif dari INACA,” ucap Ketua INACA Askhara Danadiputra.

INACA menambahkan, meski tarif telah menurun namun pihaknya tetap memastikan keutamaan pelayanan, keselamatan, dan keamanan sehingga masyarakat tidak perlu khawatir.
Sebagai informasi, harga tiket domestik beberapa maskapai penerbangan melonjak naik selama dua minggu terakhir.

Hal ini membuat masyarakat mengeluh dengan tarif yang ada. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menilai naiknya tiket pesawat beberapa waktu lalu masih berada di bawah tarif batas atas sehingga sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 14 Tahun 2016.

Sementara itu, Ketua YLKI Tulus Abadi mengatakan ada beberapa hal yang menjadi catatan di sini meski Kemenhub telah menyatakan bahwa kenaikan tarif pesawat ini masih dalam batas wajar.

“Kenaikan tarif yang dilakukan maskapai besaran presentasenya terlalu menghentak, bisa mendekati 85 persen dari tarif biasanya. Tentu saja masyarakat shock,” ujar Tulus dalam pernyataan resminya, Senin (14/1/2019).

Terlebih, sambung Tulus, kenaikan terasa lebih berat lagi karena terakumulasi dengan bagasi berbayar oleh maskapai kategori LCC. Bahkan bagasi berbayar besarannya bisa lebih mahal dari tarif tiketnya.

Oleh karenanya, YLKI memberi saran ke depannya, antara lain;

1.Jika mau menaikkan tarif, idealnya maskapai menaikkan tarif secara bertahap, jangan terlalu signifikan besarannya. Hal ini agar masyarakat tidak shock seperti sekarang.

2.Kemenhub harus mengatur besaran bagasi berbayar. Jangan sampai besaran bagasi berbayar melampaui batas maksimum tarif pesawat dengan kategori medium service.

3.Pemerintah harus memberikan berbagai insentif pada industri penerbangan nasional agar tarif tetap terjangkau, sehingga tidak menganggu mobilitas dan perekonomian nasional, khususnya sektor pariwisata. “Ironis kan kalau warga Indonesia malah berwisata ke luar negeri karena tarif pesawatnya lebih murah,” tutup Tulus. (mai)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here