AtjehUpdate.com, Aceh Selatan
Sejak sepekan terakhir petani sawit di Kabupaten Aceh Selatan mengeluhkan harga
jual tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang menurun drastis. Akibatnya daya
beli TBS tingkat pabrik sangat melemah jatuh ke level Rp 1.100 -1.300 rupiah
perkilogram, hal ini diduga karena adanya praktik kartel di tingkat atas.
 
“Kami menduga adanya
praktik kartel dalam pembelian TBS khususnya di Aceh Selatan ini. Kami sebagai
petani sawit sangat merasa di rugikan degan harga yang demikian”. Hal ini
disampaikan oleh pengusaha perkebunan kelapa sawit, Sahrul Miswan yang
merupakan mantan pimpinan DPRK Aceh Selatan kepada AtjehUpdate,com, Mingggu
(9/7/2017).
Ia menjelaskan, kalkulasi
biaya produksi 40 persen dari tukar hasil ditambah degan biaya panen Rp 200
rupiah perkilogram,  menurunnya harga TBS
akan jelas-jelas akan merugikan petanl.
“Bagaimana petani
sawit bisa memenuhi biaya kebutuhan sehari-hari belum lagi memenuhi biaya
anak-anaknya sekolah. Kami menduga pemilik perusahaan kelapa sawit yang dimiliki swasta dengan
semena-menanya menetapkan harga secara sepihak yang hanya menguntungkan pihak
pabrik dan merugikan pihak petani sawit yang ada di Aceh Selatan.”
Kami harap Gubernur Aceh
untuk membasmi dan menghapus adanya hal-hal terkait praktek kartel TBS di Aceh
yang merugikan pihak-pihak petani sawit.
“Kami meminta pada
Gubenur Aceh dan pemerintah daerah untuk melaksanakan dan menerapkan permentan
nomor 14/01.140 / 2/2013 tentang penetapan harga TBS produksi pekebun. Dimana
dalam hal ini pemerintah daerah dan Aceh dapat menentukan harga TBS sawit
sesuai yang dirumuskan oleh permentan tersebut. Sebagai mana di ketahui tidak
adanya pemerintah daerah menetapkan harga TBS di Aceh Selatan”. pintanya.
Menurut Sahrul, solusi
utamanya adalah pertama pemerintah harus menerapkan permentan yang mengatur
tentang penetapan haraga TBS produksi pekebun sebagai langkah cepatnya.
Memanggil anggota kelapa
sawit Gapki atau Garpeda pengusaha muda untuk membicarakan masalah terpuruknya
harga TBS perkebunan rakyat.
Menyikapi hal tersebut,
Sahrul akan menginisiasi terbentuk nya asosiasi perkebunan rakyat yang tidak
tergabung dalam anggota Gapki atau Gaperda dan untuk itu di harapkan kepada
pengusaha pekebun untuk mendukung asosiasi ini degan menghubungi Sahrul ke
nomor Handphone  082261798820.
“Kami mengharapkan
pemerintah aceh atau pemerintah daerah segera membangun Perusahaan Kelapa Sawit
(PKS) yang dimiliki pemerintah Aceh atau Kabupaten yang bertujuan menampung TBS
rakyat dan sebagian suatu kegiatan yang mampu menampung penghasilan daerah dan
menetapkan harga normal TBS Petani sawit yang ada di Aceh dan Kabupaten,” ungkapnya.[FT]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here