AtjehUpdate.com, Banda
Aceh
– Tim Gata Aceh, melaksanakan acara bersejarah, yaitu memperingati kemenangan
Kesultanan Aceh melawan Kerajaan belanda, Sabtu (15/4), bertempat di Mesjid
Baiturrahim, Ulee Lheu, Banda Aceh Acara bersejarah ini di moderatori oleh Pak Quddus
Husein.
Twk Iqbal atas nama Gata
Aceh mengatakan perayaan acara ini sangat penting, sebab disinilah pertama
kalinya bangsa Asia mengalahkan bangsa Barat, dan untuk pertama kalinya dalam
media dan koran dunia masa itu, Aceh dibahas dengan kekaguman luar biasa karena
berhasil menghabisi Jenderal Kohler, pada 14 April 1873.
Acara yang seyogianya dilaksanakan
pada 14 April ini, diundur satu hari karena tanggal 14 bertepatan dengan hari
Jumat. Seharusnya juga dilaksanakan dibawah pohon Glumpang di Mesjid Raya
Baiturrahman, yang merupakan simbol kematian Kohler, namun sayang, pohon dan prasasti
telah hilang karena pembangunan Mesjid Raya Baiturrahman, maka dipilih Ulee
Lheue sebagai tempat lain yang pernah terjadi perang dahsyat antara Aceh melawan Belanda.
Kata sambutan juga
disampaikan Twk Waroul, yaitu tentang pentingnya peringatan kemenangan Aceh
melawan Belanda, “Dan seharusnya sejarah ini masuk dalam kurikulum pembelajaran
sekolah, kita juga mempertanyakan mengapa pemerintah Kota Banda Aceh sampai
hari ini belum merubah nama Twk Muhammad Dawodsyah menjadi Sultan, hal ini
terkesan pemerintah Aceh tidak mau mengakui Sultan Muhammad Dawodsyah sebagai Sultan”,
kata Tuwanku ini.
Selanjutnya, pembacaan
Hikayat Muammar Al Farisi, yang kali ini lebih banyak dengan menggunakan bahasa
Aceh, yaitu tentang baju perang pasukan Aceh, adanya baju direh (zirah), dan
silapeh baje temaga ( satu baju tembaga), serta bagaimana dahsyatya perang,
telihat ketika Imuem Luengbata mencincang Belanda, kemudian belanda menembak
dengan meriam dan Imuem Luengbata terlempar pingsan, namun setelah sadar beliau
memaki Belanda dan menantang mereka adu pedang didarat yang tidak dilayani oleh
Belanda.
Acara dilanjutkan dengan penjelasan
yang amat menarik dari dr. Kamal Arif, penulis buku Ragam citra Kota Banda Aceh,
beliau menjelaskan sejarah perang Aceh yang dahsyat, dan juga menjelaskan
tentang lini konsentrasi yang amat menarik bagi semua hadirin, kemudian
tausiyah sejarah dari Ustad Amir Hamzah 
tentang perlunya menjaga sejarah dan menyampaikan beberapa hal, termasuk
usaha beliau memperjuangkan Sultan Muhammad Dawodsyah menjadi pahlawan nasional.
Beliau juga menyesalkan
sikap Gubernur Aceh yang menyetujui penebangan pohon glumpang, karena langkah itu dianggap telah merusak
situs dan prasasti sejarah perang Aceh, Apalagi pembangunan payung telah
merusak keindahan Mesjid Raya Baiturrahman, yaitu mesjid terindah di Asia Tenggara.
Dalam tausiyah nya, Beliau juga meminta generasi muda untuk terus berjuang
menjaga sejarah Aceh.
Acara diutup dengan doa
untuk para syuhada Aceh, oleh teungku imam mesjid baiturrahim, Teungku Bukhari,
acara dilanjutkan dengan makan khanduri Apam, seperti diketahui, di Aceh ketika
bulan Ra’jab, maka bulan ini juga dirayakan dengan khanduri Apam
(red-makanan tradisonil setempat).[Red]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here