AtjehUpdate.com,- Banda Aceh, Konflik yang terjadi antara Plt Gubernur dengan lembaga Keistimewaan Aceh terus berlangsung hampir seminggu ini. Plt Gubernur Aceh terlihat lebih memilih diam saja dan diduga sikap ini sebagai taktik mengulur – ngulur waktu sehingga masalah ini tidak lagi heboh.

Kemudian rencana penghilangan kekhususan Aceh terus berlanjut. Namun sayang rakyat Aceh sudah lama menyadarinya bahwa Aceh sejak lama sudah di permainkan. Hal itu ditegaskan oleh ketua Peusaba Aceh, Mawardi Usman melalui rilis tertulisnya yang disampaikan kepada AtjehUpdate.com, Jumat (1/03).

Peusaba mengingatkan, ketika Ikrar Lamteh tahun 1957 untuk perdamaian setelah Perang dengan DITII, pemerintah Pusat memberikan keistimewaan Aceh, namun satu persatu keistimewaan Aceh itu dihilangkan hingga akhirnya meletus GAM pada tahun 1976.

Hari ini orang Aceh mau diperlakukan dengan cara yang sama satu demi satu kekhususan Aceh dihilangkan sehingga Aceh kembali menjadi kawasan biasa yang tidak punya identitas yang kelak akan menghadapi ejekan sebagai kawasan yang tidak bisa mempertahankan kekhususan yang dimiliki.

“Belum terlambat menjaga kekhususan Aceh sehingga tidak berulang lagi kejadian masa lalu dimana kita terisolasi dari dunia luar dan diperlakukan dengan tidak hormat”, ujarnya.

Pihaknya  meminta semua elemen masyarakat Aceh melupakan perselisihan antara sesama yang sama sekali tidak penting dan bersatu padu melindungi Aceh. Salah satu cara melindungi adalah mengubah tatanan kepemimpinan di Aceh.

Ia juga menilai bahwa Plt Gubernur Aceh jelas telah tidak memenuhi syarat, karena dengan sengaja menyerang para orang “Tua Aceh” yang berusaha menjaga adat istiadat dan jelas sekali menunjukkan permusuhan dan kebencian yang mendalam.

Karena itu Peusaba meminta seluruh rakyat Aceh bersatu untuk memakzulkan Plt Gubernur yang tidak tahu malu dan tidak punya adat  itu. Semua harus berdiri di depan dan dengan sungguh-sungguh melindungi adat Istiadat Aceh.

“Ingatlah Nasehat Ali Bin Abi Thalib kepada Muhammad Hanafiah dalam perang Shifin ‘tegaklah berdiri dan gemeretakkan Gigimu dan jangan berpindah dari posisimu, gunung-gunung boleh berpindah dari posisinya namun anda akan tetap tegak berdiri’,”.

Kemudian cara Berdiri Muhammad Hanafiah telah masuk dalam adat ketika para orang tua memgajak anaknya dalam prang sabi dengan seruan “Wahee Aneuk tadong beukong beu teuglong lagee geupula (Wahai Putraku dalam perang sabi ini berdirilah dengan kokoh seperti pohon yang tertanam dalam tanah untuk membela negeri ini). Mate aneuk meupat jrat, Gadoh adat pat ta mita”, tegas Mawardi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here