AtjehUpdate.com,- Ketika berbicara tentang sejarah, selalu saja ada yang menarik dari ceritanya yang dituturkan secara lisan turun-temurun dan akhirnya menjelma menjadi sebuah legenda. Salah satunya adalah legenda mengenai seorang perempuan cantik dari Tiongkok bernama Nian Nio Lian Khie. Dia dikenal dengan nama Putroe Neng, seorang komandan perang wanita berpangkat jenderal yang datang ke nusantara kala itu.

Khususnya di Lhokseumawe – Aceh, legenda Putroe Neng sampai saat ini masih terus hidup dan diceritakan di kalangan masyarakat setempat. Jasad panglima perang berparas cantik asal Tiongkok ini disemayamkan di pinggir Jalan Medan Banda Aceh, Desa Blang Pulo, Kota Lhokseumawe – Aceh.

Panglima perang cantik “pemakan kemaluan” laki-laki, demikian julukan seram ini disematkan kepada panglima cantik dari Tiongkok itu, karena setiap lelaki yang menjadi suaminya dipastikan mati pada malam pertama pernikahannya. Tercatat dalam sebuah karya novel karangan Ayi Jufridar berjudul Putroe Neng-Tatkala Malam Pertama Menjadi Malam Terakhir Bagi 99 Lelaki (2011).

Makam Putroe Neng di Jalan Medan - Banda Aceh, Desa Blang Pulo - Kota Lhokseumawe
Makam Putroe Neng di Jalan Medan – Banda Aceh, Desa Blang Pulo – Kota Lhokseumawe

Tidak pernah bisa menceritakan indahnya malam pertama

Dalam cerita itu dikisahkan bagaimana 99 lelaki yang meminang dan menikahinya tidak pernah bisa mengucapkan “tadi malam aku tidur dengan Putroe Neng” pada pagi harinya setelah melakukan percumbuan. Hanya kalimat “nanti malam aku akan tidur dengan Putroe Neng”. Lantaran, 99 pria yang menikahinya akan mati saat malam pertama mereka di ranjang pengantin dengan tubuh terbujur kaku dan kulitnya berubah membiru akibat racun ganas dan mematikan yang ada pada perempuan itu.

Alkisah, sebab kematian 99 lelaki yang menjadi suami Putroe Neng itu dikarenakan racun yang sudah ditanam pada alat kelaminnya. Menurut legenda, racun itu adalah sebuah mantra sihir yang dipasang di daerah kewanitaan Putroe Neng oleh neneknya yang bernama Khie Nai-nai.

Yang konon pula katanya pemasangan mantra sihir terhadap anak gadis pada organ kewanitaannya merupakan upaya untuk melindungi diri. Hal ini banyak sekali dilakukan para putri kerajaan dan prajurit perempuan.

Korban pertama

Korban pertama Putroe Neng adalah Meurah Johan, panglima dari Kerajaan Perlak yang mampu menaklukkan pasukan Putroe Neng dalam peperangan. Meurah Johan ini pula yang menjadi raja pertama dengan gelar Sultan Alaiddin Johansyah di kerajaan Islam bernama Darussalam yang asalnya bernama kerajaan Indra Purba yang memproklamasikan kerajaannya menjadi kerajaan Islam pada tanggal 1 Muharram tahun 601 H/1205 M.

Nian Nio Lian Khie, sang panglima sekaligus penguasa Kerajaan Seudu, Sumatera, yang ditaklukkannya dijadikan istri keduanya dan diberi gelar Putroe Neng. Malam pertama yang seharusnya romantis pun menjadi petaka. Meurah Johan tewas di ranjang sebelum matahari pagi menyinari kerajaannya.

Kematian demi kematian di malam pertama dialami setiap lelaki yang memperistri Putroe Neng tidak menyurutkan niat para lelaki lain untuk memperistrinya. Kecantikan serta pesona Tionghoa Putroe Neng tidak bisa ditampik para lelaki dari kalangan bangsawan saat itu.

Maka, 99 lelaki pun terkapar mati di malam pertama pernikahan di ranjang yang seharusnya membuat mereka senang dan bangga. Hanya satu laki-laki yang selamat dan menjadi suaminya sampai akhir hanyat Putroe Neng. Dialah Syah Hudan atau Syekh Abdullah Kanan dari Perlak.

Lantas siapakah Nian Nio Lian Khie atau Putroe Neng yang legendanya begitu mengerikan tapi membuat 99 lelaki berduyun-duyun untuk “dilahap” kemaluannya sampai mati. Benarkah legenda tersebut adanya sehingga diwariskan secara turun temurun dalam masyarakat?

Berbagai literatur menyebutkan, seperti termaktub di buku Aceh Sepanjang Abad karya Said, Mohammad (2009), Kerajaan-Kerajaan Islam di Aceh, Sufi, Rusdi (2006) serta lainnya, sejarah kedatangan Nian Nio Lian Khie atau Putroe Neng dimulai sekitar abad ke-11. Saat itu pasukan Tiongkok melakukan ekspansi militer ke kerajaan-kerajaan kecil di Sumatera.

Nian Nio Lian Khie adalah putri Laksamana Liang Khi yang pertama melakukan penyerangan dan menguasai Kerajaan Lhok Seudeu atau Indra Jaya. Liang Khi mendirikan markas militer di sebuah wilayah yang dikenal dengan nama kuta Lingke. Nama kuta Lingke ini berasal dari nama Laksamana Liang Khie/Lion Khie.

Diprediksi Laksamana Liang Khi berasal dari Dinasti Liao Barat. Salah satu Dinasti Tiongkok yang yang didirikan oleh bangsa Khitan (916 -1.125 Masehi). Masyarakat Tionghoa menyebutnya dengan nama Kekhanan Kara-Khitan atau Kekhanan Qara-Khitai.

Karena bangsa Khitan banyak dipimpin oleh perempuan, setelah Liang Khi meninggal, Nian Nio Lian Khie yang melanjutkan kerajaan yang dikuasai ayahnya tersebut. Seorang perempuan cantik dengan kekuasaan besar dan memiliki kemampuan militer tinggi.

Mantra sihir dipasang di kelaminnya

Dengan semua yang dimilikinya tersebut, Nian Nio Lian Khie terus melebarkan kekuasaan melalui jalan perang. Kerajaan Indra Purba atau Lamuri yang di masa Kerajaan Aceh Darussalam dinamai Aceh Lhee Sagoe (Aceh Tiga Segi ditaklukkan oleh Nian Nio Lian Khie dan pasukannya yang rata-rata berjenis kelamin sama dengannya.

Sepak terjang Nian Nio Lian Khie tersebut membuat Kerajaan Indra Purwa yang dikepalai seorang raja bernama Maharaja Indra Sakti merasa terancam. Apalagi setelah benteng pertahanannya di wilayah Mampreh jebol diterjang pasukan Nian Nio Lian Khie.

Dari kisah-kisah penaklukan Nian Nio Lian Khie inilah, dimungkinkan beredar desas desus mengenai sosoknya. Panglima perang sekaligus penguasa Kerajaan Seudu dengan paras jelita yang terkenal sebagai “pelumat kelamin” laki-laki. Desas-desus sebagai bagian dari strategi perang Kerajaan Seudu untuk melemahkan keberanian kerajaan lainnya.

Julukan tersebut juga dimungkinkan secara harfiah bahwa Nian Nio Lian Khie memang melakukan pelumatan kelamin para laki-laki musuhnya. Yaitu dengan cara memotong alat kelamin pria yang menjadi panglima perang pasukan kerajaan yang dihadapinya.

Hukuman sadis Tiongkok Kuno

Dalam sejarah kekaisaran Tiongkok kuno, tercatat ada 16 hukuman sadis. Di antaranya adalah mengebiri dan menguliti tubuh tawanan perang. Hukuman ini mereka lakukan dengan mengikat alat kelamin pria agar darah tidak dapat mengalir sampai rusak secara alami. Baru kemudian dipotong dengan pisau.

Aksi memotong kepala, tangan dan kemaluan dalam perang ini kerap dilakukan oleh para prajurit maupun panglima perang sebagai bentuk kehebatan, kebanggaan serta bukti kepada rajanya karena berhasil dalam menjalankan tugas.

Pada masanya, alat kelamin laki-laki merupakan simbol pedang atau lambang keperkasaan. Memotong kemaluan panglima perang adalah simbol kemenangan pasukan Nian Nio Lian Khie, sekaligus merupakan penghinaan terhadap lemahnya prajurit Kerajaan Lamuri.

Penaklukan Nian Nio Lian Khie baru mampu dilakukan setelah Maharaja Indra Sakti yang telah terdesak menerima usulan dari Syiah Hudan untuk melawannya. Syiah Hudan akhirnya bersama Meurah Johan dan pasukan muslimnya melakukan penyerbuan. Pasukan Syiah Hudan menuju utara (benteng Lingkee). Sedangkan pasukan yang dipimpin Meurah Johan menuju barat (Gunung Keumba). Akhirnya pasukan Nian Nio Lian Khie berhasil ditaklukkan oleh pasukan Islam tersebut.

Akibat kekalahan tersebut membuat Nian Nio Lian Khie harus menjalani pernikahan politik. Dia menjadi istri Meurah Johan serta mengikuti keyakinan suaminya yang menganut ajaran Islam. Dari pernikahan dan pindah agama inilah, Nian Nio Lian Khie mendapat gelar Putroe Neng. Tapi, pernikahan tersebut juga menurut legenda sebagai bagian dari strateginya untuk menyelamatkan pasukannya yang ditahan.

Namun Putroe Neng tidak takluk lahir dan batinnya walaupun kerajaan dan pasukannya dikalahkan. Hal ini pula yang membuat Meurah Johan tewas di malam pertama pernikahannya dengan Putroe Neng.

Akhirnya Putroe Neng menikah dengan Syiah Hudan, suami terakhirnya, yang menurut cerita pula yang mampu menetralisasi pengaruh mantra sihir yang dipasang di kelaminnya. Syiah Hudan mengeluarkan mistis racun tersebut lalu memasukkannya ke dalam bambu yang dibagi dua bagian. Satu bagian dibuang ke laut dan bagian lainnya dibuang ke gunung.

Itulah sepenggal sejarah Putroe Neng yang menjadi legenda di masyarakat. Betapa sebuah cerita sejarah banyak mengandung makna dan pembelajaran sebagai khasanah perjalanan panjang sebuah bangsa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here