AtjehUpdate.com,- 72 tahun sudah organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berdiri sejak 5 Februari 1947. Semangat keIslaman dan Keindonesiaan adalah pesan tertinggi dari sang pendiri, Alm Prof. Drs. Lafran Pane. Organisasi yang bertujuan “Terbinanya insan akademis pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggungjawab atas terbentuknya masyarakat adil dan makmur yang di ridhoi Allah SWT” ini terus berkiprah dengan sekelumit dinamika Negeri.

HMI turut berkontribusi melahirkan tokoh – tokoh nasional yang termanifestasikan dalam diri Jusuf Kalla, Mahfud MD, Akbar Tandjung, Anies Baswedan dan segenap tokoh lainnya.
Bahkan Panglima besar jenderal Sudirman pernah berkata

““HMI menjadi Harapan Masyarakat Indonesia”- , pada peringatan milad HMI I di Yogyakarta.

Ucapan sang Panglima juga tak terlepas dari sosok Lafran yang sukses mewadahi figur intelektual yang memiliki niatan besar melakukan kerja kemanusiaan hingga akhirnya dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional pada 9 November 2017 oleh Presiden RI Joko widodo.

HMI kian menua, problematika yang terjadi tentu telah kenyang di hadapi, dari Dualisme kepemimpinan dimulai dari azas tunggal pada orde baru dan perpecahan perebutan kekuasaan akibat egosentris menjadi pimpinan tertinggi menimbulkan permasalahan yang terus terjadi, dari tingkat nasional hingga pimpinan terkecil tingkat komisariat di Fakultas Perguruan Tinggi. Acehpun tak terlepas dari problema ini.

Namun sebagai refleksi positif keberadaannya, cerminan suri tauladan HMI di Ujung Pantai Barat Indonesia bisa kita pelajari dari sosok Alumni HMI yaitu Almarhum Muhammad Ridha Ramli (sapaan akrab bang Ridha) yang memberi kesan mendalam hingga hembusan nafas terakhirnya, tentang cinta terhadap organisasi.

Bagi kader Hijau Hitam (warna khas symbolic HMI), bang Ridha adalah seorang Instruktur yang memiliki dedikasi tinggi dan siap mengelola training dimana saja , khususnya Aceh.

“Jika darahnya bisa berubah warna, maka tentu tidak lagi merah melainkan hijau, sebegitu cintanya bg Ridha terhadap HMI dan apapun yang ada dalam kehidupan kami selalu bang Ridha kaitkan dengan HMI ” tutur Syarifah Kurniawati, istri tercinta.

Lahir di Banda Aceh, 23 November 1965, Muhammad Ridha Ramli dikenal sebagai penggagas spiritualitas perkaderan dan sosok alumni yang memiliki komitmen tinggi terhadap perkaderan sebagai upaya melahirkan pemimpin Islami dalam semua lini kehidupan.

“Beliau selama hidupnya telah menunjukkan kontribusi dalam membangun pondasi dan metode training HMI yang religius seperti mewajibkan instruktur untuk berwudhu dan shalat sunat dua rakaat sebelum masuk forum, kemudian memperbanyak shalawat dalam training-training HMI sebagai upaya membangun kader yang memiliki komitmen dan ruh keIslaman”tutur Muhammad Dayyan, S.Ag, MEC, salah satu dosen STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa yang juga kader binaan Muhammad Ridha Ramli.

138 hari sudah Ridha Ramli menghadap Illahi Rabbi, tepat Kamis 20 Septembr 2018 Pkl 22.00 WIB (malam Jumat 10 Muharram/ Hari Asyura) karena penyakit diabetes yang telah komplikasi yang ia derita sejak sekitar tahun 2002. 16 tahun lamanya sang guru yang disebut “Wali Kutub HMI” tabah menghadapi sakitnya dengan tidak pernah berhenti mendidik anak-anak HMI yang bagai anaknya sendiri.

“Abang merasa adik-adik HMI adalah anak-anaknya juga, karena kami tidak dikaruniai anak , sehingga tidak ada anak kandung yang mendoakan kami. Insha Allah dengan berbuat baik, mendidik dan memberikan ilmu kepada mereka (anak-anak HMI) , itu menjadi amalan juga kan” ujar Syarifah Kurniawati yang juga menyebut bahwa hari ini (5 februari 2019) adalah hari 20 tahun pernikahan mereka dimana dulunya Bg Ridha memilih hari Milad HMI sebagai Hari Pernikahannya dengan sang istri yang juga sesama kader HMI.

Ya, seyogianya HMI adalah organisasi pengkaderan, meski terjadi dinamika perpecahan akibat perebutan kekuasaan, Bg Ridha adalah sosok yang tidak mau mencampuri dan lebih memilih untuk menguatkan pondasi nilai-nilai kebaikan di dalam HMI.

“Insha Allah yang diperebutkan jika itu tidak benar , tunggu saja Intervensi Allah”terang Kurniawati menjelaskan reaksi bang Ridha jika mendengar adanya perselisihan di tubuh HMI.

Kecintaan terhadap HMI yang begitu tinggi hampir tidak dimengerti oleh Syarifah Kurniawati yang akrab disapa Kak Ikur , sang suami tercinta hanya tersenyum jika ditanya mengapa begitu besarnya rasa cinta itu. Bahkan meski dalam keadaan sakit, setiap kali bang Ridha mengisi training HMI wajahnya terlihat lebih segar dan senang .

“Sampai diujung umur pun bg Ridha masih untuk HMI, saat dia kritis di Banda Aceh ataupun waktu di Penang (Malaysia) aliran air mata bg Ridha terus memohon ampun kepada Allah dan mengingatkan kak Ikur tentang adik-adik di HMI . Dan meski dalam keadaan setengah sadar pun pernah menyanyikan lagu perjuangan HMI dengan mata tertutup dan berurai air mata”ucap kak Ikur.

Sebagai seorang Istri yang telah menemani hampir 20 tahun lamanya, bagi kurniawati kebaikan suami tercintanya masih terlihat hingga menjelang ajal menjemputnya, Muhammad Ridha Ramli masih menyempatkan membersihkan diri, bersuci/wudhu dan meninggal dunia dalam shalat Isya.

Meski kini sang Wali Kutub bagi kader HMI ini telah berpulang, semangat perjuangannya tak pernah lekang. Bagaimana rasa cinta mendidik mampu mengalahkan rasa sakit terus dikenang sebagai spirit.

5 Februari 2019 adalah Milad organisasi Himpunan Mahasiswa Islam dengan slogan Yakin Usaha Sampai atau disingkat Yakusa, slogan yang mendarah daging ditubuh HMI memiliki pengertian yang paling sederhana dan efektif untuk memberi pesan bahwa apapun yang dilakukan maka berserah dirilah pada Allah dalam iringan do’a serta ikhtiar dengan niat tulus ikhlas agar tujuan HMI mudah tercapai.

Konflik sebagai Dinamika boleh terjadi namun tujuan dan cinta-cita HMI tak pernah berubah dan harus tetap dijunjung tinggi, sebagai wadah membina kader-kader akademis, pencipta , pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab atas terbentuknya masyarakat adil dan makmur yang di ridhoi Allah SWT. Diujung Sumatera , Banda Aceh, komitmen hingga akhir hayat akan rasa cinta terhadap HMI dapat disuri tauladani dari sosok seorang Intruktur senior yaitu Alm Muhammad Ridha Ramli. (Sherly Maidelina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here