AtjehUpdate.com, Banda Aceh – Hubungan
dunia melayu dengan Turkestan sudah sangat lama bahkan dalam Sulalatus Salatin
karangan Tun Sri Lanang bahwa anak Iskandar Zulkarnain yang bernama Aristun
Syah menikah ke negeri Turkistan dari keturunannyalah asal  segala Raja di Melayu.
Sedangkan di Aceh hubungan
dengan Turkestan tercatat sejak Sultan Ilik Khan Seljuk menjadi Sultan di
Bukhara tahun 383 beliau Sultan di Bukhara pada Zaman Khalifah Al Qadir Billah.
Anak keturunannya datang dan menyebarkan ilmu Islam ke Aceh.
Salah satu keturunan
Sultan Ilik Khan adalah Syeikh Abdurrauf As Seljuqi dari Bagdad  yang datang ke Aceh 495 H yang tak lain
adalah ayahanda dari Sultan Johan Syah yang mendirikan kerajan di Gampong
Pande. Sultan Johansyah yang menyatukan seluruh wilayah Aceh semua Sultan Aceh
berasal dari keturunannya. Sultan Ilik Khan menurut Garis nasab juga bertemu
dengan nasab Sultan Iskandar Zulkarnen.
Menimbang lamanya hubungan
Aceh Turkestan yang sudah 1055 Tahun dalam tahun Hijriyah (383-1438 H), Maka
Peusaba mengadakan acara peringatan Aceh Turkestan. Apalagi jasa sultan dari Turkestan
sangat besar di Aceh. Melihat Belakangan ini banyak situs yang hancur dan
hilang maka Peusaba berharap dengan acara ini akan menyadarkan semua pihak agar
tetap menjaga situs bersejarah di kawasan titik nol Banda Aceh yang sangat
strategis.
Dengan adanya kegiatan ini
maka adanya sebuah langkah awal dalam melindungi sejarah besar Aceh yang jika
tidak dilindungi dalam tahun akan datang akan ada dalam status sangat darurat.
Mencegah lebih baik daripada mengobati harapan terbesar akan KM 0 tidak menjadi
titik pembuangan sampah dan tinja yang akan mempermalukan sejarah besar Aceh.
Aceh sudah membuat hubungan Internasional pada masa lalu dengan berbagai negara
dan titik sentral nya ada di gampong Pande dan Gampong jawa maka selayaknyalah
kedua tempat ini dilindungi.[Red]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here