Oleh : juliansyah

AtjehUpdate.com,- Dari sudut camera yang kurang jelas, bercampurnya dengan riuh pengunjung (MTQ) di Medan beberapa waktu yang lalu—tiba tiba menjadi booming. Tranding topik ini sempat menikung (viral) dari tragedi #HoaksRatnaSarumpet. Demikian soal #alfateka yang bersumber dari video viral media sosial (medsos) ketika itu.

Hingar bingar publikpun menjadi ramai—membahas “kekakuan” lidah sang Presiden. Ada yang membelanya, adapula yang senda dengan menambahkan kalimat dengan satire berbagai macam. Tak elok memang. Sepertinya ada sesuatu yang kurang dan kita lupakan.

Dari beberapa laman media sosial, saya mulai mencari sesuatu jawaban yang pas, ya… kira-kira mampu menjawab, dengan maksud, bisa “berdiri di tengah” sedapat mungkin dan segera menyudahinya. Itu saja. Sayang rasanya, jika maksud Bapak Presiden RI, Joko Widodo itu baik tapi ada terselip didalamnya.

Dari beberapa penelusuran, saya menjumpai satu laman di akun facebook   Muhbib Abdul Wahab. Rasanya ini sangat mengena, dan menemui jalan tengah atas jawaban yang cerdas. Ia menjawab dengan berbagai sudut pandang dengan dasar dasar keilmuan.

Lessons Leanerd

Mengutip pendapat pakar linguistik Bahasa Arab dan Dosen Pasca UIN Jakarta, Dr Muhbib Abdul Wahab itu ia menyebutkan bahwa pelajaran terpetik (Lessons Leanerd) dari kadus #Alfateka tersebut dapat diambil beberapa hikmah dalam kehidupan, diantaranya ;

ia menyebutkan bahwa, jika jadi pemimpin harus mau dan terus belajar dengan cepat termasuk ilmu tajwid. Menurutnya bahasa Arab atau Alquran itu pada dasarnya adalah mudah. Banyak orang kafir (sebut saja para orientalis dan akademisi barat) yang mahir dan fasis berbahasa arab. “Masak muslim nggak mau Alquran dan bahasa Arab?”, katanya.

Kesalahan dan kebiasaan salah dalam hal apapun termasuk pengucapan kata Arab, lebih lebih Alquran tidak boleh dibiarkan karena pembiar-an akan bisa menjadi sebuah kebenaran. Sedangkan menyangkut dengan kasus yang menimpa pak jokowi secara fonologi dan tajwid jelas salah. Mungkin secara sosiolinguistik ini dapat /bisa ditoleransi.

Namun jika di tilik dari sudut teologis, jelas ini tidak berdosa karena niatnya pasti membaca Alfatihah, meskipun yang terartikulasi #alfateka beraksen jawa.
Tapi secara sosiopolitik idealnya, Bapak Jokowi dapat memberi contoh yang terbaik (uswah hasanah) supaya dapat apresiasi tinggi dari publik bukan malah sebaliknya.

Kemudian, kasus #alfateka setidaknya menjadi pembelajaran positif bagi umat agar dalam mengaji Alquran dengan menggunakan bahasa Arab terus digiatkan secara baik dan benar. “Kalau belum yakin dan fasih, sebaiknya pemimpin menghindari penyampaian yang menimbulkan kontroversi dan sensitif.

“Semoga kita dapat mengambil hikmah darimanapun datangnya, agar tidak terperosok dua kali (kadang lebih) dilubang yang sama” demikian kata Muhbib pembuat model test Toafl di Pusat Bahasa UIN Jakarta Pusat tersebut yang kini penjelasannya itu bertebaran di media sosial.

Dengan demikian, bagi saya ; “Marilah kita sudahi #alfateka itu. Tak tepat rasanya berlama lama berdiskusi yang tak ada ujung pangkalnya. Kedepan, pasti ada sesuatu lebih penting lagi yang harus kita pikirkan. Seperti, bagaimana caranya pemilihan Presiden April 2019 itu bisa berjalan dengan baik dan damai.

Fokus itu mungkin yang terbaik yang harus kita lakukan. Mari saling merangkul bukan untuk memukul. Mari saling menghormati perbedaan bukan malah membuat jurang perpecahan. Karena “beda” itu adalah rahmat bukan kiamat yang diberikan Allah SWT kepada kita. Semoga.

*penulis adalah wartawan freeline di berbagai media massa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here