AtjehUpdate.com,- Tengku Zulkarnain, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia menanggapi tajam polemik usulan tidak menggunakan sebutan kafir untuk non muslim. Polemik muncul setelah sidang Komisi Bahtsul Masail Maudluiyyah, Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama, mengusulkan supaya NU tak memakai istilah kafir untuk menyebut non muslim karena dianggap menyakiti umat yang bukan Islam.

“Kata kafir ada dalam Al Qur’an sudah ada sejak Nabi Adam belum turun ke dunia. Juga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sekarang diusulkan jangan dipakai karena menyakiti orang di luar Islam? Lama-lama mereka yang memakai dimasukkan penjara karena menyakiti? Itu mau kalian? Kenapa tidak buat Qur’an sendiri aja?” kata Tengku Zulkarnain, seperti dikutip di media sosial Twitter @ustadtengkuzul.

Kemudian dia membandingkan giliran sesama muslim tidak mau toleransi, berhamburan kata-kata bughot, khawarij, radikal, wawasan sempit, anti kebhinnekaan dan masih banyak kata-kata kasar. “Giliran sama lain agama, sakit sekali perasaannya kalau jumpa kata kafir yang ada banyak dalam Al Qur’an. Kapan ya buat Qur’an sendiri?” kata dia.

Tengku Zulkarnain menyarankan kepada yang tidak setuju dengan penggunaan istilah kafir untuk menyebut non muslim membuat kitab agama baru saja.

“Kitab Fiqih satu-satunya di dunia. Semua kata kafir dihapuskan. Kafir Dzimmi, Kafir Harbi, Kafir Musta’min tidak ada. Terus apa perlu nabi baru? Nabi Nusantara? Ya Allah, Selamatkanlah NKRI dari kehancuran berpikir ulama,” kata dia.

Dia kemudian mengungkit isu lama. Menurut dia sejak ada keputusan non muslim boleh jadi pemimpin berapa tahun yang lalu, sekarang ada keputusan menyebutkan kafir tidak boleh.

“Apa ada yang dirancang buat jadi wapres ya…? Yang ini murni nanya saja. Tidak perlu hujjah… Matur nuwun…” kata dia.

Menurut dia menganggap kata kafir sebagai ungkapan kebencian adalah kekeliruan, karena kata kafir bukan ujaran kebencian. Kamus Besar Bahasa Indonesia juga memuatnya. “Kami dan kawan-kawan tidak pernah memanggil teman atau tetangga dengan sebutan hai kafir! Itu gila namanya. Tapi menghilangkan dari agama mustahil,” katanya.

Dalam kontek bernegara, Tengku Zulkarnain bersyukur selama ini di NKRI tidak pernah dipakai kata kafir. Sudah 73 tahun merdeka. “Terus apa gunanya keputusan menghapus sesuatu yang tidak pernah ada? Perbuatan tidak manfaat, dan membuat heboh rakyat saja. Semoga Allah memelihara kita semua. Amin,” kata dia.

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah juga menyoroti isu itu. Menurut dia istilah kafir lahir dari kitab suci yang tidak bisa diamandemen.

“Jika ada kata kafir dalam konstitusi dan UU, mari kita amandemen, itu buatan manusia. Katanya kita disuruh jangan campur agama dan politik. Beginian aja gak bisa dicerna,” kata Fahri Hamzah lewat Twitter.

“Kenapa yang jadi korban hanya agama Islam? Kenapa Al Qur’an yang dipersoalkan? Susah banget mau jadi orang Islam. Kalau oleh konsep iman agama lain saya disebut kafir ya terima saja. Memang kenapa kalau kafir?” kata dia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here