Tugas Presiden Melindungi Semua Rumah Ibadah dan Pemuka Agama, Bukan Bicara Intoleransi!

0
346

Oleh : Teuku Gandawan

AtjehUpdate.com,- Tiap kali gereja atau pemuka agamanya mengalami serangan fisik atau intimidasi, kita kerap langsung melihat adanya pihak yang serta merta menganggap atau mengopinikan telah terjadi upaya intoleransi. Penulis sepakat, bahwa tidak pada tempatnya penyerangan ini pantas terjadi, tapi lebih tidak pada tempatnya pula untuk bergegas menyatakan telah terjadi upaya intoleransi. Berlebihan dan ceroboh!

Hal logis dan lazim yang wajib diharapkan terjadi adalah tindak lanjut pengusutan oleh aparat, bukan pembentukan opini tanpa dasar dan membabibuta. Tugas Polri untuk segera mengusut, tugas media untuk memberitakan secara proporsional dan sejuk, tugas masyarakat keseluruhan untuk menahan diri, tugas Presiden untuk memastikan semua terkendali dan bisa segera pulih.

Bukan tugas presiden untuk segera menyatakan ini intoleransi. Bukan tugas Kapolri untuk sesegera mungkin menyatakan ini terorisme. Bukan tugas media untuk segera memberitakan siapa pelakunya, agamanya, perilakunya, kehidupan pribadinya dan segala hal yang bisa menggiring opini. Bukan tugas publik juga untuk segera beropini di sosial media untuk bilang begini begitu. Karena apa? Karena harusnya kita bukan negara gosip! Kita bukan bangsa penggosip! Kita bukan negara yang warganya ingin sekali berkelahi atas sesamanya!

Kita tidak memerlukan bensin ketika terjadi kebakaran. Tidak juga perlu membahas penyebab kebakaran ketika api tengah menyala besar. Yang diperlukan segera adalah tindakan taktis petugas pemadam, bantuan pemadaman oleh publik dan jaminan keamanan oleh aparat. Tidak ada pihak yang perlu terlihat hebat karena segera tahu penyebab kebakaran. Karena yang lebih dibutuhkan adalah pihak-pihak yang bisa memadamkan api, menyelamatkan korban, mencegah kerawanan pasca kejadian.

Itulah yang kita perlukan ketika terjadi penyerangan rumah ibadah dan pemuka agama. Yakni kesigapan semua pihak menahan diri. Media, publik, aparat dan pejabat, jangan jadi bensin yang turut mengobarkan suasana yang tidak kondusif. Presiden tidak perlu bergegas menyatakan intoleransi. Tidak ada perlunya presiden terlihat di mata internasional sebagai pihak penegak HAM. Ada atau tidak ada opini pihak internasional, memang tugas presiden menjaga persatuan.

Kapolri tidak perlu merasa harus bisa segera tahu apa dan kenapa. Tidak perlu berlaku seperti malaikat yang serba tahu siapa berbuat apa dan karena apa. Tugaskan saja aparat seperti biasa. Tidak perlu juga langsung menyatakan ini terorisme jika antara pelaku dan korban berbeda agama. Jangan bodoh, walau jangan juga ceroboh.

Jangan juga ada pihak tertentu yang merasa lebih menderita atas penyerangan rumah ibadah dan pemuka agamanya. Memuakkan jika ada yang merasakan begitu! Kita harus jaga semua masjid, gereja, vihara, pura dan sebagainya. Dan tugas polisi untuk menjaga semua rumah ibadah. Jangan salahkan atau tuduhkan atau berikan opini seolah umat tertentu sedang menyerang umat lainnya. Bedebah biadab itu yang menjual opini demikian.

Mari jaga persatuan dengan tindak nyata. Mari jaga kerukunan antar umat beragama. Berteriak marahlah ketika agama apapun itu diserang oleh oknum dari penganut agama apapun itu. Kita tak butuh Islam yang diserang penganutnya. Kita tak butuh Kristen/Katolik yang diserang penganutnya. Kita tak butuh Islam yang diserang oleh penganut Kristen atau sebaliknya dan seterusnya.

Siapa yang bertanggung jawab atas semua ini? Tentu saja Presiden Republik Indonesia saat ini yakni Joko Widodo. Jadi tugas utama Jokowi adalah menjaga persatuan, bukan menuding-nuding seolah ada upaya intoleransi. Jadilah presiden yang menyejukkan bagi persatuan bangsa ini.

Jakarta, 13 Februari 2018 09.15

Penulis adalah Direktur Eksekutif Strategi Indonesia #StrategiIndonesia™

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here