Vaksin Babi yang Beredar di RSUD Tamiang
AtjehUpdate.com, Kualasimpang – Diduga kuat, obat injeksi
mengandung unsur babi beredar di Rumah Sakit Umun Daerah (RSUD) Aceh Tamiang.
Obat cair bersumber dari babi itu disuntikkan kepada pasien penyakit jantung
yang berobat di RS milik pemda tersebut. Hal itu terungkap ketika  keluarga salah seorang pasien melaporkan
kejadian yang pernah dialaminya kepada LSM Gadjah Puteh.
“Kami berharap
pengadaan vaksin mengandung babi itu dihentikan segera oleh manajemen RSUD Aceh
Tamiang. Kita juga akan pertanyakan dasar yang digunakan untuk peredaran obat/vaksin
itu, apakah telah mendapat izin dari MUI setempat atau tidak,” tandas Direktur
Eksekutif DPP Gadjah Puteh, Sayed Zahirsyah Almahdaly kepada Atjehupdate.com,
di Karang Baru, Minggu (2/4).
Dikatakan, jika obat yang mengadung
lemak babi memang dibutuhkan dengan dalih untuk kesehatan penderita jantung,
namun jangan disuntikkan kepada pasien muslim. Sebab masih ada obat injeksi
lain yang halal, yaitu yang mengandung unsur sapi. “Semua orang tahu, mayoritas
masyarakat Aceh itu muslim, lalu kenapa obat mengandug babi dibiarkan beredar
bebas di RSUD Aceh Tamiang. Jika terpaksa harus diberikan, seyogianya harus
dikonsultasikan atau disampaikan terlebih dahulu kepada pasien dan
keluarganya,” harapnya. 
Namun yang terjadi,
sambung Sayed, setelah beberapa kali injeksi obat babi disuntikan ketubuh
pasien, baru keluarganya diberitahukan oleh asisten apoteker RSUD Atam kalau
obat tersebut mengandung babi. Sontak kabar itu membuat kaget, dan akhirnya
keluarga pasien memilih menolak untuk disuntik pada saat itu.
“Hal itu dialami oleh
pasien yang masih keluarga besar saya. Bahkan pasca keluar dari RS, penyakit
jantungnya kambuh lagi, obat mengandung babi itu tetap diberi kepada pasien.
Namun karena tidak ada pilihan lain dengan terpaksa injeksi haram itu masuk ketubuh
sang pasien,” urainya.
Diceritakan, kejadian itu
sudah berlangsung sekitar tiga bulan, namun dia yakin obat mengandung babi itu
masih beredar di RSUD Aceh Tamiang. Sebab, belum lama ini pasien kembali ke
RSUD untuk berobat jantung, namun masih tetap diberikan obat yang sama. “Nama
obat injeksinya, Lovenox 6000 anti-Xa IU/06ml Enoxaparin sodium. Dan dibawahnya
tertulis dengan warna hitam “Bersumber Babi”,” beber Sayed Zahirsyah sambil
menunjukan foto obat tersebut kepada wartawan.
Dikatakan Sayed, keluarga
pasien baru tahu obat tersebut bersumber babi setelah mendapat penjelasan dari
petugas apoteker RSUD Aceh Tamiang. Pihak apoteker menjelaskan, bahwa ada dua
jenis obat injeksi jantung, yaitu bersumber dari sapi dan babi.  Namun karena injeksi sapi kehabisan stok,
terpaksa dikeluarkan injeksi babi. Setelah obat ditebus, lalu diperiksa oleh
keluarga pasien, ternyata benar ada tulisan diujung bawah mengandung babi. Obat
itupun difoto untuk barang bukti. 
“Menurut saya petugas
apoteker sudah membuat tindakan yang benar, namun saya heran sama perawatnya,
kok mereka diam saja bahwa obat itu bersumber dari babi, setelah saya protes
mereka berkilah, lho sebelumnya tidak diberitahukan apa sama dokternya.?,” kata
keluarga pasien yang melaporkan kejadian itu kepada Gadjah Puteh.
Ternyata aksi protes
terhadap perawat yang tidak memberitahukan hal sumber babi tersebut sempat
menyedot perhatian, dan esok harinya langsung digelar rapat internal dengan
memanggil penjaga apoteker. Disisi lain, keluarga pasien merasa kecewa karena
selama empat hari dirawat kenapa tidak diberi tahu oleh dokter atau perawat,
kalau yang disuntikan itu vaksin bersumber babi.
Direktur RSUD Aceh
Tamiang, Ibnu Azis, yang dihubungi wartawan, Jumat (31/3), mejelaskan, obat
mengandung unsur babi tersebut kegunaannya untuk penyakit jantung memang ada
beredar dan masih ada sampai saat ini, tapi hal itu sudah sesuai izin kedokteran dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Aceh Tamiang.
Sebelum diinjeksi ke
pasien dikonsultasikan dulu kepada keluarga pasien, kalau setuju baru
diberikan. “Ada juga vaksin injeksi sapi, namun efeknya lebih bagus yang unsur
babi,” ujarnya.
Menurutnya, obat injeksi
bersumber babi diberikan tergantung kondisi pasien. Kalau mendadak dan mendesak
untuk keselamatan pasien, maka diberikan vaksin unsur babi tersebut. Semua itu
tidak ada masalah, karena sudah sesuai aturan, sudah ada izin MUI, terang Azis.
Kalau mau dipermasalahkan
silahkan tanyakan langsung sama dokternya. Di rumah sakit lain juga menggunakan
itu, tapi tidak diinformasikan kepada pasien seperti di RSUD Aceh Tamiang. Dia
mengaku juga pernah bertanya langsung kepada dokter spesialis jantung soal obat
bersumber babi tersebut, dan hal itu dibolehkan. “Pak Direktur tenang saja saya
yang bertanggung jawab,” sebut Ibnu Azis, menirukan perkataan dokter jantung yang
pernah ditanya olehnya.[Jamil Gade]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here