AtjehUpdate.com, Peristiwa kehebohan atas lahirnya seorang bayi bermata satu di Mandailing Natal, Sumatera Utara beberapa waktu lalu cukup menjadi perhatian masyarakat.

Kasus ini memang tergolong langka dan hingga saat ini hanya terjadi tujuh kali di dunia. Lantas apa yang menyebabkan kondisi tersebut bisa terjadi?

Dikutip dari Okezone, Spesialis anak DR Dr Setyo Handryastuti, SpA(K), mengatakan bayi bermata satu dikenal dalam dunia medis dengan istilah Cyclops.

Kondisi ini merupakan bentuk ekstrim dari holoprosensefali yaitu gangguan perkembangan otak pada masa 3 bulan atau trimester pertama kehamilan. Dampak yang bisa terjadi adalah gangguan pembentukan struktur wajah antara lain mata, hidung, dan telinga serta gangguan perkembangan otak dimana pembentukan otak kanan dan kiri menjadi terganggu, otak hanya terisi ventrikel, dan sedikit jaringan otak yang terbentuk.

Gangguan ini bisa disebabkan oleh banyak faktor seperti gangguan nutrisi ibu, faktor genetik, lead (timah), infeksi Toksoplasma, rubella, CMV, herpes, dan virus-virus lain, serta merkuri.

Sebelumnya pada kasus di Mandailing Natal tersebut diberitakan ada kemungkinan bayi berinisial S itu terpapar merkuri mengingat ayahnya bekerja sebagai penambang. Namun hal ini dibantah oleh dr Handryastuti.

“Paparan merkuri pada ayah tidak akan menyebabkan kejadian tersebut. Tapi kalau ibu makan atau minum sesuatu yg terpapar merkuri dalam waktu cukup lama bisa (menyebabkan gangguan perkembangan otak). Misalnya ikan dan air minum yg tercemar merkuri,” ucap dokter yang merupakan Staff Divisi Neurologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM , Sabtu (15/9/2018).

dr Handryastuti menjelaskan bahwa paparan merkuri pada janin yang dikandung ibu bisa menyebabkan gangguan perkembangan otak dalam berbagai bentuk.

Jika bayi bertahan hidup maka bisa mengalami gangguan perkembangan, disabilitas intelektual, epilepsi, ganggun perilaku, dan gangguan tulang. Untuk kasus bayi S, dirinya hanya mampu bertahan selama 3 hari. Handryastuti juga menyatakan bahwa dampak paparan merkuri sulit diatasi.

“Jika terkena pada janin yang dikandung ibu dan menyebabkan gangguan perkembangan otak tidak ada yg bisa dilakukan. Anak perlu dipantau pertumbuhan dan perkembangan secara lebih ketat. Sedangkan kalau terkena pada masa bayi dan anak dan terdeteksi kadar merkuri yang tinggi dalam darah dapat dilakukan detoksifikasi. Tapi kerusakan yang sudah terlanjur terjadi sulit diperbaiki,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here